Greg Hambali, bapak aglaonema yang pernah hasilkan tanaman seharga Rp600 juta

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Greg Hambali (Aglaonema_Jakarta/Instagram)

Gregori Garnadi Hambali telah mendedikasikan 30 tahun dari hidupnya untuk terus bereksperimen dengan beragam varietas tanaman hias. Salah satu yang menjadi fokus utamanya sejak dahulu adalah tanaman hias yang berjenis aglaonema.

Karena itulah, pria yang kerap disapa Greg Hambali itu dikenal sebagai Bapaknya Aglaonema. Julukan ini diberikan karena dia kerap bereksperimen dengan mengawinkan beberapa jenis Aglaonema sehingga memunculkan varietas baru yang menarik minat para pecinta tanaman hias.

Lalu bagaimana dirinya memulai eksperimen tanaman hias? Dan apa juga alasan sosok ini tertarik untuk bereksperiman aglaonema? Berikut uraiannya:

1. Sosok Greg Hambali

Greg Hambali (Aglaonema_Jakarta/Instagram)

Sosok Gregori Garnadi Hambali telah terkenal sebagai sosok Bapak Aglonema Indonesia. Dirinya telah mendedikasikan hidupnya selama 30 tahun untuk terus bereksperimen dengan beragam varietas tanaman hias. Salah satu yang menjadi fokus utamanya sejak dahulu adalah tanaman hias berjenis aglaonema.

Greg sendiri secara pribadi tak mau membesarkan dirinya sendiri, karena hal terpenting baginya adalah hasil kerjanya di dunia botani. Dirinya memang telah mencintai dunia tanaman semenjak duduk di bangku SD. Dia juga pernah iseng mengawinkan buah pepaya burung dan semangka ketika duduk di bangku SMP.

Dari situlah dirinya mulai tertarik untuk melakukan persilangan. Karena ketertarikan inilah, ketika lulus SMA, Greg ditawari untuk bekerja di Lembaga Bogor Nasional (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI). Tawaran bekerja paruh waktu ini untuk membantu mengecek literatur dan nama ilmiah sembari kuliah di IPB.

  5 publik figur Indonesia yang aktif sebagai pegiat lingkungan

Belum sampai lulus kuliah di IPB, dirinya ditawari beasiswa dari British Council untuk kuliah S2 di Universitas Birmingham. Di situ, dia berhasil mendapatkan gelar Master tanpa harus menyelesaikan S1. Setelah itu, dia kembali ke LIPI untuk melanjutkan penelitian botani.

Namun akhirnya, karena perbedaan idealisme, Greg memutuskan untuk keluar dari LIPI agar bisa melakukan penelitian yang menurutnya lebih mendalam. Selama hidupnya ini, dirinya telah mendedikasikan dirinya selama lebih dari 30 tahun bereksperimen dengan berbagai varietas tanaman hias.

2. Pengaplikasian ilmu

Aglaonema (ANGELO FACUNDO/Flickr)

Greg mulai mengaplikasikan ilmunya dengan membuat silangan caladium. Sayangnya, jenis ini tidak dapat bertahan lama. Sebab, menurutnya, walau modelnya bagus, tetapi bentuk daunnya tidak kokoh alias loyo. Sehingga dia pun harus terus mengembangkan agar lebih kuat

Selain itu dirinya juga meneliti tanaman talas dan juga soka. Saat mengembangkan soka, ia tidak pernah mengomersilkannya. Dalam benaknya hanya ada niat untuk mengembangkan tanaman tropis dalam negeri agar lebih komersil.

Lantaran idealismenya ini, kadang usaha Greg mengembangkan tanaman jadi terhambat. Maklum sebagai pegawai negeri, dia harus mengikuti program dari pemerintah. Karena merasa terkekah inilah pada tahun 1983, dirinya memutuskan keluar dari LIPI.

  Mengenal sosok Ishak Warnares, sang pembudidaya kayu putih

“Saya ingin lebih mengekspersikan diri saja,” ucapnya, mengutip laman Lipi.

Cita-cita Greg adalah menciptakan tanaman varietas baru. Hal ini bukan persoalan gampang. Agar bisa mencapai tujuan ini dirinya mengaku kesulitan mendapatkan dana membiayai proyek. Namun ada beberapa teman yang mempunyai perhatian terhadap tanaman mau membantu Greg dengan mengucurkan modal,

Supaya bisa mewujudkan cita-citanya, Greg lantas bekerja di sebuah nursery. Di sana, dia mempelajari tanaman palem. Pada 1986, tanaman ini pernah berjaya, sayangnya, nilai ekonomis tanaman ini tidak dapat bertahan lama lantaran terjadi kelebihan pasokan di pasar.

3. Jatuh cinta dengan aglaonema

Aglaonema (ANGELO FACUNDO/Flickr)

Greg menceritakan awal mula dia jatuh cinta dengan tanaman hias aglaonema. Saat itu di tahun 1980 an, dia menghadiri pameran flora yang digelar di Ancol. Ketika itu ada seorang peserta asal Lebak Bulus yang memamerkan sebuah tanaman berjenis baru asal Filipina bernama Aglonema commutatum tricolor.

“Waktu awal tahun 80 an, saya ketika itu hadir di pameran flora di Ancol dan langsung tertarik oleh sebuah varian tanaman hias baru (saat ini bernama Aglaonema commutatum tricolor) yang dibawa oleh Ibu Nuh Sugiono dari Flora Sari Lebak Bulus, karena memiliki daun yang bagus dan luar biasa dengan batang yang berwarna merah jambu. Saya harus punya tanaman itu,”

  Orang Tobaru yang menjaga tradisi menanam padi jenis lokal

Sekarang Greg dikenal sebagai ahli penyilangan aglaonema. Karyanya yang spetakuler adalah the big five aglaonema. Yaitu Tiara, Widuri, Hot Lady, Harlequin, dan Pride of Sumatra. Semua dihargai tinggi per lembar daunnya. Misalnya Aglaonema Tiara dihargai per lembar daunnya mencapai Rp3 juta.

Salah satu penemuan brilian Greg adalah aglaonema jenis Harlequin yang memiliki batang daun lebar, corak yang cantik, warna merah muda yang terang dan mengkilap, serta berdaun rimbun. Penemuan pada tahun 2006 tersebut memiliki harga yang fantastis hingga mencapai Rp600 juta.

“Ketika itu yang menang adalah Harry Setiawan, pemilik Irene Flora di Rawa Domba, Jakarta Timur. Lelang ini menjadi harga termahal sepanjang sejarah aglaonema karena pemiliknya cuma satu orang,” ucap Greg.

Namun dirinya masih belum puas. Masih ada satu hal yang mengganjal pikirannya yaitu banyak orang yang mau mengembangkan tanaman hias secara total. Dia menyayangkan fenomena goreng menggoreng harga tanaman hias seperti yang terjadi pada anthurium akhir-akhir ini.

“Hanya mengambil gampangnya saja,” pungkas Greg.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya