Iin Herlina Dewi, sang penyebar literasi baca di pedalaman Flores

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Iin Herlina Dewi (dok. pribadi)

Mungkin tak banyak yang kenal sosok Iin Herlina Dewi, sang peliterasi baca asal Ende bagi anak-anak di pedalaman Flores. Namanya boleh jadi tak sepopuler para peliterasi top yang kesohor dan sering wara wiri di layar kaca atau diundang di acara berskala nasional lainnya.

Meski begitu, upaya sederhana yang Iin lakoni secara serius pada 5 tahun belakangan ini cukup memberikan dampak signifikan bagi anak-anak usia sekolah–utamanya pendidikan dasar–di wilayah pelosok Flores, yang masuk dalam kategori 3T (teringgal, terdepan, terluar).

Melalui bendera yang dibangunnya, yakni ”Rumah Baca Mustika”, Iin berkelana naik turun gunung, bukit, pantai, hingga wilayah-wilayah yang cukup sulit dijangkau oleh kendaraan.

Iin tak pernah patah arang. Ia dan suaminya rela menjejak setiap jalan terjal yang kerap mereka hadapi. Tujuannya satu, memberikan minat baca bagi anak-anak usia sekolah, baik yang masih sekolah atau putus sekolah.

Berikut kisahnya.

Melakukan pendekatan berbeda

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Rumah Baca Mustika (@rumahbacamustika)

Tak seperti kegiatan sosial lainnya yang memiliki tempat tetap di lokasi tertentu, kegiatan literasi yang dilakoni Iin dilakukan secara nomaden, yang artinya berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

”Tak ada perencanaan soal kegiatan, ikut naluri saja. Sekarang di sini, besok belum tau akan kemana,” ungkapnya saat dihubungi Bahadur.id, Selasa (3/1/2023).

  Membaca nasib dalam tradisi potong ayam masyarakat Flores

Tapi, ia juga tak lantas hilang kegiatan meski tak pernah membuat perencanaan aktivitas. Selalu ada saja lokasi baru yang ia jelajahi dan dirasa perlu untuk dilakukan literasi baca untuk anak-anak.

”Sekarang lagi di desa, besok bisa saja menjelajah ke pantai, ke gunung, atau bahkan ke pulau-pulau kecil sekitaran Ende. Selalu ada saja kegiatan yang dilakukan. Jadi nggak pernah kosong,” tandas wanita 46 tahun asal Medan itu.

Menurut Iin, pendekatan dengan cara melakukan literasi secara nomaden sedikit banyak memberikan pembelajaran tersendiri. Salah satunya adalah bisa memperluas cakrawala soal wilayah yang di datangi, serta bisa memahami lebih dekat dengan kultur dan budaya wilayah tersebut, karena pada setiap wilayah tentu sangat berbeda kebiasaan masyarakatnya.

”Yang pasti lebih banyak senangnya. Soal duka atau capeknya gak perlu di ingat-ingat,” tawanya.

Lain itu, dengan pendekatan yang dilakukan secara berbeda itu, Iin lebih memperluas jejaringnya dan lebih banyak mengenal orang-orang yang sepemikiran dengan dirinya di luar wilayah Ende. Nama Rumah Baca Mustika pun sejatinya kian tersebar ke beberapa wilayah pelosok.

Iin juga merasa dengan meliterasi membaca untuk anak-anak, pendidikan mereka di wilayah pedalaman tak akan memiliki gap dengan anak-anak yang hidup di wilayah perkotaan. Dengan membaca, mereka akan memiliki ilmu yang tentu bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga, sosial, dan tentu saja untuk lingkungan/alam.

  Zeth Wonggor, pahlawan burung surga di Pegunungan Arfak

Menjaring relawan yang susah-susah gampang

Meski terlihat melakukan aktivitas yang seru dan penuh petualangan penjelajahan, namun hingga saat ini Rumah Baca Mustika hanya digawangi oleh 20 relawan saja. Ya, semuanya relawan, yang rela dan setia kawan untuk terus menggaungkan literasi baca di wilayah pelosok.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Rumah Baca Mustika (@rumahbacamustika)

Para relawan, jelas Iin, tak mendapatkan gaji atau uang lelah dari apa yang mereka lakukan. Namun, kecenderungan semua relawan merasa aktivitas tersebut menyenangkan dan tak membosankan, sehingga mereka tetap menjalankan kegiatan dengan sukacita.

Tak terhitung sudah wilayah atau daerah pelosok yang mereka datangi untuk menggaungkan minat baca pada anak-anak. Tak terhitung pula berapa ratus ribu kilometer jalan yang mereka tapaki untuk membekali generasi cilik itu dengan ilmu. Namun, karena semuanya dilakukan secara ikhlas, tentu hanya kesenangan yang mereka ingat.

Aktivitas modal dengkul

Lantas pertanyaannya, berapa modal dana untuk operasional kegiatan Rumah Baca Mustika?

”Gak ada, nol rupiah. Dari awal berdiri gak ada modal sama sekali,” ungkap wanita yang hobi menjelajah alam ini.

Namun begitu, bukan Iin namany kalau tak nekat dengan tekadnya yang bulat. Trauma pada masa kecilnya yang sangat sulit mendapatkan buku membulatkan tekadnya untuk tak lagi boleh dialami anak-anak masa sekarang, tak peduli soal lokasinya ada dimana. Kesetaraan membaca harus bisa dinikmati oleh semua anak-anak usia belajar di seluruh Indonesia.

  Mengenal deretan petani muda Indonesia di Hari Tani Nasional

Tuhan pun tak tidur. Dari upayanya itu ada beberapa donatur tetap yang hingga saat ini terus memberikan bantuan. baik itu donasi buku, seragam serta perlengkapan untuk sekolah.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Rumah Baca Mustika (@rumahbacamustika)

Asal tahu saja, di wilayah pedalaman–khususnya di Indonesia bagian timur–masih banyak anak-anak di pedalaman melakukan kegiatan belajar dengan alas kaki yang kurang dari kata layak. Itu baru alas kaki, apalagi seragam, tas, atau bahkan buku.

Sang donatur yang tak disebutkan namanya oleh Iin ini ingin bahwa anak-anak usia sekolah harus mendapatkan kesempatan belajar yang layak.

”Dia bantu berapapun kebutuhan kita, asal untuk anak-anak bisa belajar. Untuk para relawan, adalah penggantian ongkos bensin. Kita cukup senang dan berterima kasih sekali,” cerita mantan Dosen di salah satu Uiversitas di Medan itu.

Kini, dengan kerja keras serta pengabdian tak kenal luntur itu, nama Rumah Baca Mustika dan telah terdaftar di instansi bawahan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud) untuk mendapatkan program donasi buku secara gratis.

Salut!!

Ingin memantau aktivitas lainnya, silakan pantau di tautan ini dan laman ini.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya