Kades Eko Mulyadi, sosok inspiratif dari ‘Kampung Idiot’

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Eko, sang Kepala Desa bertangan dingin (Indozone.id)

Adalah Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, di Kabupeten Ponorogo, Jawa Timur, yang sempat jadi sorotan media pada medio 2008. Sorotan itu bukan karena prestasinya, tapi lantaran desa tersebut populer dengan sebutan ‘Kampung Idiot’. 

Hal itu disebabkan warga desa tersebut didominasi oleh orang-orang dengan kebutuhan khusus, yakni Tunagrahita alias terganggunya fungsi intelektual. Atas latar itu mereka harus hidup seadanya. Bahkan untuk bertahan hidup mereka hanya memakan nasi aking.

Nasi aking adalah makanan yang berasal dari sisa-sisa nasi yang tak termakan yang kemudian dibersihkan dan dikeringkan. Lazimnya, nasi aking dijual sebagai pakan unggas.

Perubahan desa sedekade terakhir

Warga Desa Karangpatihan (Mubeng Ponorogo)

Tapi itu dulu. Sekarang semuanya berubah berkat tangan dingin seorang Kepala Desa yang cukup peduli dengan peningkatan perekonomian desa. 

Perubahan tersebut membuat para penyandang gangguan intelektual itu saat ini mulai sibuk beraktivitas layaknya orang normal. Mereka berkegiatan dengan memberikan pakan ternak dan membuat kerajinan tangan, berupa keset. 

Ada juga sebagian dari warga desa yang menukar hasil ternak seperti telur dan daging dengan bahan makanan lain, seperti gula, cabai, dan garam.  

  Mbah Tumi, pertahankan produksi minyak klentik tradisional selama 50 tahun

Sejatinya, warga desa tak boleh lupa dengan sosok Eko Mulyadi, yang telah menjadi kepala desa mereka sejak 2013 lalu. Dengan segenap daya upayanya, Eko ingin merubah Desa Karangpatihan dari desa tertinggal menjadi desa yang sejajar dengan desa-desa lainnya. 

Awal mula komitmen

“Saya kenalan sama teman mengaku dari Desa Karangpatihan saja enggak percaya diri waktu itu,” kisah Eko dalam Indozone.id

Dari cerita temannya tersebut, Eko tergugah untuk membantu dengan cara yang boleh dibilang cukup sederhana. Caranya saat SMA acapkali membuat acara bakti sosial ke Desa Karangpatihan, yang terus berlanjut hingga ia kuliah di salah satu universitas di Ponorogo. 

Diceritakan, Eko juga sempat mendemo pemerintah setempat guna memperjuangkan nasib para penyandang tunagrahita. Hal itu berdampak pada eksposur media nasional dan internasional pada 2008 terkait mirisnya kondisi desa tersebut. 

Dampak lainnya, mulai banyak bala bantuan yang masuk ke desa tersebut pada periode 2008-2010. meski begitu, Eko belum puas. Karena ternyata hal itu membuat warga desa menjadi ketergantuangan bantuan. bahkan ketika ada kendaraa yang melintas di desa tersebut, mereka spontan mengejarnya, karena mengira akan mendapatkan bantuan.

  Zeth Wonggor, pahlawan burung surga di Pegunungan Arfak

Membangun kemandirian ekonomi

Eko dan salah satu warga karangpatihan (Cendana News)

Dari kejadian tersebut, kemudian Eko enyusun sebuah rencana soal bagaimana warga desa bisa mandiri tanpa bergantung pada bala bantuan.

Ia lalu mendirikan kelompok masyarakat yang diberi nama Karpat Bangkit, yang salah satu kegiatannya adalah mengajak para warga tunagrahita untuk mencari baru di sungai, kemudian mememcahkannya. Hasilnya, kemudian bisa dijual sebagai bahan baku bangunan.

Apa yang dilakukan itu ternyata efektif. Dari kegiatan itu, warga penyandang tunagrahita sudah bisa mendapatkan uang dari hasil keringat mereka.

Kemandirian warga tunagrahita di desa tersebut ternyata memicu bantuan lain berupa dana CSR dari Bank Indonesia. Uang bala bantuan itu kemudian diarahkan Eko untuk dijadikan modal memulai budidaya ternak lele dan membuat keset.

Keset yang diproduksi warga pun bisa pada akhirnya bisa untuk mencukupi kebutuhan harian mereka. Sementara untuk pendapatan bulanan, mereka mendapatkannya dari hasil ternak ayam kampung dan kambing, dengan menjual telur dan daging kambing. Lain itu, mereka juga menjual hasil kebun dan sawah.

  Sebut ajang greenwashing, mengapa Greta Thunberg begitu mengkritik COP27?

Saat ini, warga tunagrahita pun sudah bisa menikah, karena dulu ada larangan mereka menikah. Bahkan beberapa dari mereka menikah dengan orang normal. 

Bahkan soal bangunan atau rumah desa, saat ini sudah lebih baik dari dekade-dekade sebelumnya. Desa yang dulunya terisolir dan dipandang sebelah mata, kini menjadi desa berdaya ekonomi yang mampu mensejajarkannya dengan desa lain.

Kisah perjuangan Eko tentu menjadi inspirasi bagi kita. membangun dengan empati, bisa menjadi kekuatan untuk mengubah yang mustahil menjadi mungkin. Desa Karangpatihan buktinya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya