Purwo Harsono, penjaga kelestarian hutan pinus Mangunan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Bagi yang pernah atau bahkan sering berlibur ke Yogyakarta khususnya wilayah Bantul, pasti sudah tidak asing lagi dengan ciri khas destinasi wisata berupa hutan pinus. Salah satu titik paling populer adalah hutan pinus Mangunan, yang berada di Kecamatan Dlingo.

Sekitar 5 tahun yang lalu tepatnya di tahun 2017, dapat dikatakan jika kepopuleran hutan pinus Mangunan cukup tersohor, rasanya hampir setiap orang yang berkunjung ke Yogyakarta menjadikan destinasi tersebut sebagai kunjungan wajib.

Kenyataannya sebelum populer seperti saat ini, kawasan mangunan tersebut hanyalah lahan perbukitan tandus yang dikelola oleh pemerintah Yogyakarta. Setelahnya, hutan tersebut mulai ditanami dengan sejumlah pohon seperti pohon pinus, akasia, mahoni, dan masih banyak lagi.

Upaya penghijauan memang berhasil, tapi ternyata nampak tidak bermakna bagi warga sekitar yang tinggal di sekitaran kawasan tersebut. Dari sinilah cerita dimulai, sampai memunculkan sosok perintis bernama Purwo Harsono, yang menginisiasi destinasi wisata Mangunan, dan hingga saat ini berhasil memberikan pengaruh terutama dari segi pemberdayaan ekonomi bagi warga lokal.

1. Pengusulan kawasan wisata ke Sultan HB X

Pada tahun 2014, saat Sultan HB X melakukan kunjungan kerja ke kawasan mangunan, Purwo diminta mewakili masyarakat untuk menyampaikan usulan pengembangan wisata. Ternyata, usulan tersebut disambut dengan baik.

  Farwiza Farhan, dipuji Bill Gates dan masuk daftar TIME100 Next 2022

Bersama dengan sejumlah warga, Purwo akhirnya berinisiatif untuk mendirikan sebuah koperasi lebih dulu, agar kedepannya pengelolaan kawasan wisata yang disetujui tersebut bisa berjalan dengan skema kerja sama dengan Pemda DIY.

Diberi nama Koperasi Noto Wono, Purwo kemudian menjadi ketua koperasi dan terus berupaya mengembangkan kawasan tersebut. Bukan hanya semata-mata menjadi tempat wisata yang mengedepankan keuntungan, namun juga kelestarian lingkungan dan jaminan bahwa kebersihan di kawasan mangunan tetap terjaga.

2. Potret wisata dan pelestarian hutan yang jalan beriringan

Berdasarkan kondisi yang dilihat secara langsung pada kisaran tahun 2019, diakui memang kawasan hutan mangunan merupakan destinasi wisata yang terpelihara dengan baik. Dari segi pariwisata, semua fasilitas yang memudahkan pengunjung untuk mengakses puncak hutan di atas perbukitan tersebut cukup memadai.

Sementara itu dari segi penjagaan lingkungan, dapat dikatakan hampir tidak ada sampah sisa wisatawan yang berserakan di tanah. Untuk ukuran destinasi wisata populer yang kala itu banyak mengundang pengunjung dan sangat viral di media sosial, peringatan kebersihannya dapat dikatakan cukup ketat.

  Tini Kasmawati sang penjaga Owa Jawa dari Sukabumi

Bahkan jika dilihat, hampir setiap jarak 100 meter akan dijumpai tempat sampah dengan mudah, lengkap dengan peringatan untuk membuang sampah pada tempatnya yang jika diteliti jumlahnya terlampau banyak.

Dari segi fungsi sosial dan ekonomi pemberdayaan masyarakat, hal tersebut juga diraih dengan cemerlang. Koperasi Noto Wono yang dikelola Purwo dan masyarakat mencatat, jika dalam kurun waktu tahun 2017-2019, rata-rata wisatawan yang berkunjung ke kawasan tersebut mencapai 2,5 juta orang per tahunnya.

Tak heran, jika pemasukan desa yang diperoleh dari potensi tersebut juga tidaklah sedikit. Berdasarkan penuturan Purwo, pendapatan dari aktivitas wisata di Mangunan dibagi dengan skema dimana 25 persennya disetorkan ke Pemda DIY, 70 persen untuk pemberdayaan masyarakat, dan 5 persen untuk Koperasi Noto Wono.

Sementara itu jika dilihat dari segi nomial riilnya, di tahun 2019 saja nilai yang disetorkan ke Pemda DIY mencapai Rp2,4 miliar. Dan sudah pasti, nominal yang kembali ke masyarakat setempat dalam bentuk pemberdayaan mencapai tiga kali lipat dari nominal tersebut.

  Greg Hambali, bapak aglaonema yang pernah hasilkan tanaman seharga Rp600 juta

3. Anugerah Kalpataru

Berkat kerja kerasnya yang menggerakkan desa bersama warga sekitar, pada tahun 2021 kemarin Purwo masuk ke dalam jajaran 10 sosok pegiat lingkungan yang menerima penghargaan Kalpataru untuk kategori perintis lingkungan.

Penilaian yang disorot untuk menganugerahkan penghargaan kategori perintis lingkunan sendiri diketahui mengutamakan aspek pengembangan hutan dari sisi ekonomi pemberdayaan masyarakat, pemeliharaan hutan, hingga fungsi sosial.

Mendapat kehormatan tersebut secara langsung dari Menteri KLHK, Purwo mengaku jika ia awalnya merasa enggan untuk diikutsertakan sebagai salah satu kandidat yang akan menerima penghargaan Kalpataru.

“Awalnya saya tidak mau saat akan diajukan, karena cukup berat konsekuensinya,” ujar Purwo, mengutip Kompas.com.

Meski begitu, lebih lanjut Purwo menegaskan jika ada atau tidaknya penghargaan tersebut, dirinya akan tetap mengupayakan agar seluruh kawasan hutan pinus Mangunan tetap lestari, dan terus mendatangkan kesejahteraan bagi warga sekitar melalui potensi pariwisata yang dimiliki.

Foto:

  • Haris Firdaus/Kompas
  • Pradito Rida Pertana/detikcom
  • Dok. KLHK

Artikel Terkait

Artikel Lainnya