Mbah Tumi, pertahankan produksi minyak klentik tradisional selama 50 tahun

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Mbah Tumi (Daruwaskita/IDN Times)

Minyak goreng selama ini jadi salah satu bahan pokok yang tak lepas dari kebutuhan masyarakat Indonesia. Sehingga tak heran saat terjadi kelangkaan, kondisi krisis yang dilalui cukup menggemparkan. Sebenarnya, ada satu jenis alternatif yang bisa dipilih sudah lama digunakan oleh masyarakat tradisional, yakni minyak klentik.

Dikenal juga sebagai minyak kelapa, minyak kelapa banyak dijual secara retail dengan harga tinggi di berbagai pusat perbelanjaan. Tapi di samping itu, sebenarnya pembuatan secara tradisionalnya sendiri hingga saat ini masih dapat dijumpai di wilayah pedesaan.

Meski harus diakui, pembuat minyak kelapa/klentik tradisional kini kian berkurang. Salah satu pembuat minyak klentik tradisional yang terkenal adalah Mbah Tumi, sosok yang sudah mengolah minyak klentik selama puluhan tahun.

1. 50 tahun membuat minyak klentik

Mbah Tumi membuat minyak kelapa (Daruwaskita/IDN Times)

Mbah Tumi tinggal di Padukuhan Gedangsari, Kalurahan Baleharjo, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Bisa dibilang, jika ia adalah satu-satunya orang yang bertahan membuat minyak tersebut di kampungnya.

Diketahui sosok berusia 70 tahun ini sudah mengolah minyak yang berasal dari kelapa murni selama 50 tahun. Atau lebih tepatnya sejak tahun 1970. Dulu, ia biasa membuat minyak klentik dengan mendiang suaminya yang meninggal dunia sejak keduanya masih berusia muda.

  Opung Putra Rusmedia, pejuang hutan adat dari korporasi rakus

“Saat masih muda dan suami masih hidup, dalam sehari bisa menghabiskan 1.000 butir kelapa untuk membuat minyak klentik hanya dalam waktu dua minggu,” ujar Mbah Tumi, mengutip IDN Times Jogja.

Namun kini, jelas kapasitas pembuatan yang dia lakukan sudah tidak bisa lagi sama seperti dulu, apalagi sekarang dia melakukannya seorang diri.

“Kalau sekarang kadang sehari, kadang dua hari sekali baru membuat minyak klentik.” ujarnya.

2. Dipesan khusus

Saat ini, Mbah Tumi disebut hanya bisa mengolah sebanyak 50 butir atau paling banyak 100 butir kelapa. Adapun kelapa yang dipakai ia beli seharga Rp5.000-Rp6.000 per butir dalam sekali produksi. Dengan kisaran jumlah kelapa 50-100 butir tersebut, Mbah Tumi biasa hanya menghasilkan sekitar tiga liter minyak klentik.

Bicara soal harga, minyak klentik berukuran 600 mililiter ia jual di harga Rp50 ribu. Sedangkan untuk ukuran 1,5 liter dijual dengan harga Rp125 ribu. Lain itu, Mbah Tumi juga biasa menjajakan minyak buatannya di Pasar Argosari Wonosari. Ia biasanya berangkat berjualan sekitar pukul 03.00 WIB dini hari, dan dagangannya akan habis terjual pada kisaran pukul 07.00 WIB.

  Luthfi Kurnia, inisiator makanan murah Warung Seribu Cinta

Selain ukuran besar, Mbah Tumi menjual minyak klentik ukuran plastik kecil dengan harga lebih murah, yakni sekitar Rp8.000 per bungkus. Untuk kemasan tersebut, dia lebih banyak menitipkan penjualan ke pedagang sayur kecil.

Selain dijual ke pasar atau tukang sayur, diketahui jika biasanya ada beberapa orang yang memesan secara khusus atau tiba-tiba datang langsung ke rumah untuk membeli minyak klentik. Sehingga terkadang, minyak sudah habis lebih dulu sebelum dijual ke pasar.

3. Proses pembuatan yang panjang

Proses pembuatan (Alexander Ermando/TribunJogja)

Minyak klentik memang dikenal punya harga yang lebih tinggi jika dengan minyak sawit biasa. Selain karena lebih banyak khasiat yang diperoleh, proses pembuatannya sendiri memang tidak mudah. Bahkan, prosesnya terbilang melelahkan terutama jika dilakukan secara tradisional.

Diceritakan jika setiap pembuatan, prosesnya akan dimulai pukul 07.00 WIB. Kemudian Mbah Tumi baru selesai mengolah pukul 15.00 WIB, bahkan bisa sampai pukul 18.00 WIB jika kelapa yang diolah mencapai 100 butir.

Dalam prosesnya, kelapa yang sudah dibersihkan dari batok akan diparut dan diambil santannya. Kemudian, santan dimasak dengan api sedang dan diaduk terus menerus hingga menjadi blondo.

  Aprilani Soegiarto dan berdirinya Lembaga Oseanografi di Indonesia

Blondo kemudian dimasukkan ke dalam saringan dan diperas menggunakan kain, dari proses itu baru diperoleh minyak dan olahan sampingan berupa blondo kering.

Lebih lanjut, diceritakan jika akan lebih baik apabila air yang digunakan untuk memasak kelapa yang sudah diparut adalah air kelapa itu sendiri. Menurut Mbah Tumi, hal tersebut akan membuat kualitas minyak menjadi lebih bagus, dan blondo menjadi lebih gurih.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya