Mengenal deretan petani muda Indonesia di Hari Tani Nasional

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
petani muda
Ilsutrasi petani muda (Joharun Nasihin/flickr)

Setiap tanggal 24 September, menjadi peringatan Hari Tani Nasional. Bukan peringatan baru, momentum satu ini sudah lahir sejak lama, berdasarkan pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) di tanggal yang sama pada tahun 1960. UU tersebut yang menjadi dasar untuk memperjuangkan hak-hak seluruh petani di Indonesia.

Saat ini, ada sejumlah permasalahan serius yang dihadapi dalam bidang pertanian. Baik dari segi keterbatasan lahan, mahalnya harga bibit dan biaya perawatan, hingga yang paling penting adalah persoalan regenerasi.

Saking seriusnya, pemerintah saat ini terus melakukan program dorongan untuk memancing kalangan anak muda agar memiliki minat di bidang pertanian. Beruntungnya meski belum banyak, ada segelintir sosok yang sudah memiliki kesadaran sekaligus keinginan untuk melanjutkan rantai regenerasi petani.

Hingga saat ini setidaknya ada beberapa nama yang dikenal sebagai petani muda, dan sukses kepastian dalam menjalani kehidupan sebagai seorang petani. Siapa saja sosok yang dimaksud? Berikut 3 di antaranya:

1. Wisnu Saepudin

Wisnu Saepudin, petani paprika (Ferry Bangkit via Suara.com)

Petani muda pertama tergambar lewat sosok Wisnu Saepudin. Masih berusia 29 tahun, Wisnu berasal dari Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Komoditas tani yang digeluti oleh Wisnu adalah sayur paprika.

  Herry Rasio, ‘master’ aquascape Indonesia yang mendunia

Mengutip Detik.com, diketahui jika Wisnu memutuskan untuk menekuni bidang pertanian sejak tahun 2012, saat usianya masih 22 tahun. Kala itu, di saat kebanyakan anak muda masih senang bermain dengan uang bekal dari orang tua, Wisnu sudah merintis ladang pertaniannya.

Memang diakui bahwa ia memiliki modal berupa lahan seluas 1.200 meter persegi, yang diberikan oleh orang tuanya. Namun fasilitas tersebut ia manfaatkan dengan baik dengan mengubahnya menjadi green house yang ditanami paprika.

Semua pekerjaan awalnya ia kerjakan seorang diri. Wisnu tak malu untuk menanam, memupuk, merawat tanaman supaya tak diserang hama, memanen, hingga memasarkan hasil panen.

Hasilnya pun kini tak mengkhianati usaha yang dilakukan. Kini Wisnu telah memiliki sebanyak 22 petani binaan. Mengenai hasilnya, dikatakan bahwa ia bisa memasok sekitar 1-1,5 ton paprika sehari dan mengisi pengiriman ke beberapa pasar di Jawa Barat, Jakarta, dan Bali.

Disebutkan juga jika kini setidaknya Wisnu sanggup meraup untung bersih hingga Rp20 juta per bulan.

2. Petani muda Sandi Octa Susila

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Sandi Octa Susila (@sandioctas)

Sosok petani muda satu ini juga bisa dibilang sebagai salah satu sosok yang memanfaatkan kelebihannya dengan baik. Sandi Octa Susila memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan hingga jenjang Master Manajemen Agribisnis. Kesempatan menimba ilmunya pun dijalani di kampus pertanian terbaik di Indonesia, Institut Pertanian Bogor (IPB).

  Darmawan Denassa, pegiat konservasi sekaligus literasi asal Gowa

Perjalanannya menjadi petani berawal saat Sandi kembali ke kampung halaman di Desa Tegallega, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur. Saat datang ke kebun milik Ayahnya, Sandi menemukan banyak hasil panen yang diletakkan begitu saja di tanah, menunggu tengkulak atau pembeli datang.

Sandi melihat bahwa metode penjualan pertanian harus berkembang dan tak bisa lagi hanya bergantung pada para tengkulak.

“Saya coba kembangkan pertanian ini dalam skala modern market, bukan lagi traditional market,” ujarnya, mengutip Bisnis.com.

Hasilnya, kini Sandi berhasil mengarahkan sebanyak 373 petani dalam hal pemasaran. Memiliki lahan pertaniannya sendiri seluas 120 hektare. Ia memasarkan hasil panen dari sejumlah kelompok tani di wilayah sekitar tempat tinggalnya. Disebutkan bahwa Sandi juga bisa memperoleh omzet dari Rp500 juta hingga Rp800 juta per bulannya.

3. Rizal Fahreza

Rizal Fahreza, petani muda jeruk (via Mongabay Indonesia)

Sosok petani muda satu ini juga memanfaatkan ilmunya setelah lulus sebagai mahasiswa pertanian di IPB. Disebutkan jika pada saat mengawali bisnis pertaniannya, Rizal memulai dengan menggarap lahan seluas 2,2 hektare yang diperolehnya dengan sistem bagi hasil.

  Purwo Harsono, penjaga kelestarian hutan pinus Mangunan

Akhirnya lewat sistem sewa lahan dan juga lahannya sendiri, Rizal mampu menggandeng sebanyak 17 petani hortikultura di enam kecamatan di Garut. Sampai sekarang, Rizal masih menyuplai buah jeruk sebanyak 1,2 ton atau sekitar 400 dus per hari untuk wilayah Jakarta dan Bogor.

Rizal juga dikenal sebagai pendiri usaha kebun edukasi dan agrowisata bernama Eptilu, yang komoditas perkebunannya berfokus pada Jeruk.

Dari hasil pertanian/perkebunan jeruknya, pada tahun 2020 Rizal disebut memiliki pendapatan sekitar Rp8-15 juta dari sektor produksi buah dan sayuran. Lain itu ia juga memperoleh pemasukan sekitar Rp25-35 juta per bulan dari sektor distribusi dan penjualan sayur dan buah.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya