Mengintip kreativitas pendirian kebun organik di perkotaan garapan Sutomo

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Rupanya tidak semua orang ‘betah’ menikmati masa tua atau pensiun dengan rehat dari kegiatan tertentu, dan sama sekali tidak menjalani aktivitas yang memberatkan. Bagi beberapa kalangan, kebiasaan aktif bergerak di masa produktif rupanya telah menjadi rutinitas yang tidak dapat ditinggalkan.

Sebagian lainnya dari mereka yang ada di masa tersebut bahkan kerap kali menyampaikan keluhan yang sama, misalnya kondisi tubuh menjadi tidak fit akibat berkurangnya aktivitas sehingga membutuhkan kegiatan sampingan untuk menikmati masa senja.

Tak heran, jika pada akhirnya kerap dijumpai beberapa orang di usia senja yang terlihat masih aktif melakukan kegiatan produktif secara sukarela, tanpa berorientasi pada keuntungan dan hanya untuk kesenangan pribadi semata.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Sutomo, sosok pria paruh baya pensiunan berusia 69 tahun yang hidup di wilayah perkotaan Jakarta, tepatnya di kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Akrab disapa dengan sebutan Tomo, alih-alih berhenti beraktivitas berat, pria ini memilih melakukan kegiatan produktif dengan menggarap sebuah kebun organik.

  Herry Rasio, ‘master’ aquascape Indonesia yang mendunia

1. Teringat akan masa kecil di desa

Inisiatif Tomo mendirikan kebun organik ternyata berangkat dari ingatan masa kecilnya selama hidup di kampung halaman Tuban, Jawa Timur. Dirinya memang bukan warga asli Ibu Kota, melainkan perantau yang pada dasarnya sama sekali bukan bekerja sebagai petani.

Setelah pensiun, Tomo mengaku termasuk salah satu orang yang tidak bisa diam tanpa melakukan aktivitas sehari-hari.

“Saya ini orangnya aktif, kalau diam saya malah stres. Tapi kalau saya bergerak justru muncul inovasi dan ide untuk berkreasi,” jelas Tomo, dalam Sari Agri.

Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menggarap sebuah lahan dekat rumah susun tempatnya tinggal bersama anak dan cucu menjadi kebun organik. Terlebih, pada saat awal pandemi Tomo juga mengungkap jika ingin menyediakan lahan terbuka hijau untuk sang cucu bermain dan menyegarkan pikiran.

“Tujuan awal saya berkebun itu adalah untuk dikonsumsi saja, bukan dikomersilkan.” tambahnya.

2. Manfaatkan lahan terbengkalai

Ibarat berhadapan dengan kondisi dan situasi yang tepat, tidak jauh dari tempatnya bermukim yakni di kawasan Rumah Susun Samawa, Pondok Kelapa, ada sepetak lahan dengan luas tidak lebih dari 200 meter yang terbengkalai.

  Surinanto, penikmat ketenangan masa pensiun dengan bertani

Tomo akhirnya berinisiatif membersihkan lahan yang ada dan menyulapnya menjadi kebun organik. Beragam jenis tanaman pertanian ada di kebun tersebut, mulai dari jagung, terong ungu, terong putih, kangkung, singkong, caisim, pakcoy, gambas, labu, kemangi, dan pepaya.

Bukan hanya itu, dirinya juga menanam sejumlah tanaman rempah dan herbal di bagian sudut kebun seperti jahe merah, kunyit, kencur, kunci, kunyit putih, kumis kucing, telang, lengkuas, dan temulawak.

Mengaku senang akan berubahnya lahan terbengkalai yang saat ini berubah menjadi lahan produktif, Tomo juga merasa terhibur jika ada orang lain yang sekadar berkunjung untuk melihat-lihat kebun organik tersebut.

“Saya tidak digaji di sini, menjual pun tidak, mereka datang ke sini senang melihat tempatnya adem saja saya juga sudah ikut senang,” papar Tomo.

3. Kesulitan dan harapan

Tidak langsung berhasil seperti sekarang, diakui Tomo bahwa awalnya ia sempat kesulitan mendapat bibit dan benih tanaman pangan dan hortikultura yang cocok untuk kebun organik. Lain itu, kesulitan juga dihadapi dari segi kebutuhan pemupukan.

  Potensi Kopi Gunung Puntang, mengulang kejayaan Java Preanger zaman Belanda

Beruntung, Tomo kerap dibantu baik dalam hal perawatan kebun atau pengolahan pupuk oleh warga setempat dalam hal ini Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Samawa Fish, di sekitar perumahan untuk membuat pupuk kompos dari sisa-sisa tanaman di kebun dan limbah ikan dari Pokdakan tersebut.

Di usianya yang hampir menginjak 70 tahun, Tomo tak menampik jika dirinya juga memiliki kekhawatiran jika lokasi kebun organik yang telah digarap kelak akan tergusur oleh pembangunan, ia berharap jika lahan kebun tersebut dapat tetap terjaga untuk waktu yang lama.

“Saya senang melakukan beragam ide bertani dan budidaya ikan bersama anggota Samawa Fish. Berharap lahan ini bisa tetap dipertahankan menjadi ruang hijau bagi warga di sini,” pungkasnya.

Foto:

  • pertanian.sariagri.id
  • Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia
  • Ahmad Fuad Morad/Flickr

Artikel Terkait

Artikel Lainnya