Muhammad Yusri, penjaga kelestarian penyu di Pantai Mampie

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Muhammad Yusri dan penyu (instagram @sahabat_penyu)

Indonesia dapat dikatakan beruntung, karena dari 7 spesies penyu yang ada di dunia, 6 di antaranya dapat ditemui dengan mudah di teritori laut tanah air. Adapun 6 spesies penyu yang dapat dijumpai di Indonesia terdiri dari penyu lekang, penyu hijau, penyu belimbing, penyu pipih, penyu tempayan, dan penyu sisik.

Sayang, keberuntungan menjadi tempat singgah bagi hewan memukau ini tidak dimanfaatkan dengan baik, karena nyatanya sejumlah penyu yang ada justru dieksploitasi dengan kejam untuk hal yang tidak semestinya, dan mengakibatkan ancaman kepunahan bagi beberapa spesies tertentu.

Beruntung, tetap ada orang-orang mulia yang memiliki kepedulian tinggi akan pentingnya pelestarian berbagai jenis hewan demi keseimbangan alam. Satu sosok yang memiliki kepedulian tersebut dan hingga kini tetap konsisten mengupayakan pelestarian penyu adalah Muhammad Yusri, pria asli kawasan Pantai Mampie, Sulawesi Barat.

1. Keresahan dari perdagangan telur penyu

Telur penyu (Herlambang Jaluardi/Flickr)

Yusri (32), adalah warga asli Pantai Mampie yang berada di Desa Galeso, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Dirinya banyak dikenal sebagai pendiri sekaligus pemilik kelompok konservasi bernama Sahabat Penyu yang berada di wilayah setempat.

  Babeh Idin, pencipta hutan kota Pesanggrahan asli Betawi

Meski baru berdiri secara resmi sebagai organisasi konservasi mulai tahun 2016, namun upaya kecil-kecilan untuk menjaga kelestarian penyu di lokasi tersebut sejatinya sudah berjalan sejak tahun 2003. Upaya konservasi diketahui lahir dari keprihatinan pada kondisi penyu di sekitar tempat tersebut, saat telur dan dagingnya banyak dikonsumsi.

Lain itu, dulu perdagangan telur penyu juga diketahui menjadi hal yang umum karena kepercayaan masyarakat setempat yang menyebut jika mengonsumsi telur penyu dapat memberikan sejumlah khasiat dan manfaat kesehatan, padahal kenyataannya tidak seperti itu.

“Memang dulunya hampir semua masyarakat pesisir sini suka makan penyu, termasuk keluarga saya. Kalau sekarang masih ada, cuma tidak sebanyak dulu,” jelas Yusri, mengutip Mongabay Indonesia.

2. Pakai dana pribadi untuk ‘menebus’ telur penyu

Perawatan anak penyu sebelum dilepas ke laut (Muhammad Yusri via Mongabay)

Sadar jika tidak bisa melakukan perubahan secara langsung dalam skala besar, apalagi jika harus melawan kebiasaan masyarakat setempat yang masih memiliki kepercayan dalam mengonsumsi telur dan daging penyu, Yusri akhirnya memutar otak.

Dia melakukan riset dan mencari tahu secara detail berapa harga telur penyu di pasaran. Setelah mengetahui harganya yang ternyata ada di kisaran Rp500/butir, Yusri lalu membuat kesepakatan dengan penjual untuk membeli telur, namun dalam bentuk mengambil alih kepemilikan lubang telur penyu.

  Sempat dianggap gila, Sadiman nyatanya mampu sulap lahan gersang menjadi hijau

“Awalnya saya minta mereka menyimpankan saya satu lubang. Jangan digali, saya akan beli isinya sesuai harga beli. Satu lubang itu isinya sekitar 130-150 butir telur.” jelas Yusri.

Saat sudah ditebus oleh Yusri, maka otomatis lubang telur yang sudah digali oleh induk penyu tidak akan terganggu, dan para anak penyu bisa menetas dari telurnya secara alami seperti sebagaimana mestinya.

Sistem penebusan itu terus berkembang, sampai tahun 2013 saja Yusri diketahui telah menebus puluhan lubang telur penyu, belum lagi harga jual per satu butir telurnya juga sempat mengalami kenaikan, namun hal tersebut tidak membuat niat mulia Yusri goyah.

“Tahun 2013 jumlah lubang yang saya tebus mencapai 20 lubang. Saya harus keluarkan uang pribadi hingga Rp2 juta,” tambahnya.

3. Penentangan keluarga dan anugerah Kalpataru

Muhammad Yusri saat menerima penghargaan Kalpataru (instagram @sahabat_penyu)

Keluarga yang mengetahui jika Yusri sampai menggunakan uang pribadi untuk melakukan upaya pelestarian penyu diceritakan sempat menentang kegiatannya. Belum lagi, jumlah lubang penyu juga semakin banyak dan tak mungkin semuanya bisa ditebus oleh Yusri secara pribadi jika ingin melakukan pelestarian lebih maksimal.

  Teguh Ostenrik, seniman pelestari terumbu karang melalui instalasi seni

Akhirnya, Yusri mendapatkan ide baru dengan menjadikan Pantai Mampie dan rumah Sahabat Penyu sebagai sarana wisata edukasi, wisatawan yang datang baik dalam bentuk individu atau kelompok bisa menebus satu lubang seharga mulai dari Rp400 ribu, nantinya penyu yang menetas dari lubang tersebut akan secara bersama-sama dilepaskan ke laut lewat aksi pelepasliaran yang selama ini banyak diminati.

Dengan begitu, Yusri mengaku bisa mendapatkan dua manfaat sekaligus yaitu kehidupan penyu yang terjamin dan edukasi kepada khalayak ramai termasuk wisatawan juga tersampaikan dengan baik.

Terus berjalan dengan konsisten hingga saat ini, berkat upaya besarnya dalam menjaga kelestarian penyu Yusri menjadi salah satu sosok yang diganjar penghargaan Kalpataru oleh KLHK pada bulan Oktober 2021 lalu.

“Saya melihat penyu ini adalah makhluk ciptaan Tuhan yang juga butuh perlindungan dari kita. Sesungguhnya penyu ini juga menangis ketika telur-telur mereka dicuri dan hingga saatnya tiba jadi tukik namun induknya tidak melihat anaknya tersebut turun ke laut,” pungkas Yusri.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya