Peduli lingkungan, 3 desainer ini buat karya dengan prinsip sustainable fashion

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Novieta Tourisia memperkenalkan bahan pewarna alami untuk pakaian (instagram @tourisia)

Ada banyak cara untuk mengekspresikan kepedulian terhadap lingkungan lewat karya dan kreatifitas yang dimiliki. Selain musik, buku, dan film, kali ini kontribusi memukau lainnya juga datang dari bidang fesyen.

Ya, berbagai jenis pakaian yang masuk dalam kategori kebutuhan sandang mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki, rupanya dapat dibuat dengan mengedepankan kepedulian akan lingkungan. Hal tersebut bisa berjalan dengan prinsip sustainable fashion atau upcycling fashion.

Makna dari kedua istilah itu sebenarnya sama dan berkaitan, yakni membuat pakaian dengan prinsip berkelanjutan bagi lingkungan. Praktiknya juga dapat memanfaatkan material di lingkungan sekitar yang sudah tidak lagi terpakai atau dipandang sampah. Kemudian material tersebut diubah untuk kembali memiliki nilai serta dapat terus digunakan.

Tidak hanya dilakukan dalam skala kecil, beruntungnya prinsip ini sudah banyak dilakukan oleh segelintir orang yang memiliki pengaruh besar di bidang fesyen. Siapa lagi kalau bukan para desainer ternama di tanah air.

Berikut 3 desainer Indonesia yang hingga saat ini mengedepankan prinsip berkelanjutan dan ramah lingkungan.

1. Sustainable fashion ala Chitra Subyakto

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Chitra Subyakto (@chitras)

Perempuan kelahiran tahun 1972 ini banyak dikenal lewat lini fesyennya yang bernama Sejauh Mata Memandang. Bukan sekadar desainer biasa, Chitra merupakan salah satu desainer yang vokal dalam menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan.

  Kades Eko Mulyadi, sosok inspiratif dari 'Kampung Idiot'

Chitra memiliki prinsip bahwa umat manusia di bumi pada dasarnya ibaratkan bertamu, sehingga harus sopan dan sadar diri. Chitra ingin membuat banyak orang sadar bahwa industri fesyen merupakan salah satu penyumbang polusi terbesar di bumi.

Dalam menghasilkan produk fesyennya, Chitra mengutamakan berbagai hal yang bersifat ramah bagi lingkungan. Beberapa di antaranya menggunakan berbagai serat atau kain dari lembar pakaian bekas, yang akan diolah kembali untuk menjadi produk baru.

Lain itu, dia juga menggunakan material ramah lingkungan dalam melakukan produksi seperti serat pakaian alternatif berbasis selulosa yang mudah terurai. Pada tahun 2021 lalu, dirinya juga membuat sebuah pameran bertajuk Sayang Sandang, Sayang Pangan. Dalam pameran tersebut, ia mengajak orang-orang untuk mengumpulkan berbagai lembar pakaian bekas yang dapat didaur ulang kembali.

2. Fesyen alam dari Novieta Tourisia 

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Novieta Tourisia (@tourisia)

Sosok lain yang juga mengedepankan prinsip sustainable fashion adalah Novieta. Dirinya merupakan pendiri dari lini fesyen bernama Cinta Bumi Artisans.

  Mengenal deretan petani muda Indonesia di Hari Tani Nasional

Ketika kebanyakan industri di bidang ini menggunakan berbagai bahan kimia berbahaya untuk sejumlah kebutuhan seperti perwarna. Yang otomatis berbahaya dan dapat menimbulkan kerusakan lingkungan, Novieta hadir dengan prinsip berbeda.

Sesuai dengan prinsip ‘Cinta Bumi’ ia memanfaatkan berbagai sumber daya yang ditawarkan oleh alam. Misalnya, Novieta yang bekerja sama dengan 29 pengrajin dan penenun di Bali menggunakan material kulit kayu yang berasal dari Lembah Bada.

Sementara itu untuk pewarna ia juga menggunakan berbagai bahan alami seperti bunga, serat kayu, dan lain sebagainya. Yang menarik, apa yang Novieta lakukan juga sudah menarik perhatian berbagai pihak terkait dari sejumlah negara. Beberapa di antaranya berasal dari Jepang, Jerman, Amerika, dan Singapura.

3. Diana Rikasari dan prinsip upcycling

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by DIANA RIKASARI (@dianarikasari)

Seperti Chitra Subyakto, Diana yang lebih dikenal lewat karyanya yang selalu memiliki kesan ceria dan penuh warna juga menerapkan prinsip serupa. Yakni membuat suatu produk fesyen yang mengutamakan penggunaan material bekas atau sampah tekstil.

  Muhammad Yusri, penjaga kelestarian penyu di Pantai Mampie

Pada saat peringatan Hari Bumi tanggal 22 April kemarin, Diana digaet untuk bekerja sama dengan perusahaan fesyen asal AS untuk membuat sebanyak 60 baju dari material bekas.

Lewat lini fesyennya yang bernama IWEARUP, Diana bertujuan agar banyak orang paham bahwa baju bekas yang selama ini dianggap sebagai sampah, masih memiliki potensi yang besar dan dapat kembali bernilai.

Karena itu Diana sendiri sejak awal sudah menetapkan bahwa lini fesyennya bukan sesuatu yang diproduksi secara massal. Ia memiliki fokus untuk lebih meningkatkan kesadaran masyarakat tentang sustainable fashion.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya