Pilu, masyarakat adat terakhir Suku Amazon yang hidup sendiri ditemukan meninggal

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi suku adat (Reiner Gogolin/flickr)

Selain di Indonesia, masyarakat adat yang tinggal di belantara hutan dan menyatu dengan alam juga ada di negara lain, salah satunya Amazon. Selama ini, ada satu masyarakat adat suku Amazon yang diketahui masih tersisa, namun hidup seorang diri. Ia adalah seorang pria yang oleh pemerhati lingkungan dunia dijuluki ‘Man of the Hole’.

Tragisnya, berpuluh-puluh tahun hidup dalam kesendirian di tengah hutan belantara, beberapa hari lalu sosok tersebut ditemukan meninggal. Ia dilaporkan meninggal dalam kesendirian pula, di sebuah tempat tidur gantung yang dihiasi bulu-bulu.

Siapa sebenarnya sosok Man of the Hole, dan mengapa dia bisa menjadi satu-satunya masyarakat adat yang tersisa sekaligus yang terakhir? Berikut cerita lengkapnya.

1. Hidup sendiri selama 26 tahun

Man of the hole (VINCENT CARELLI/CORUMBIARA via BBC)

Mengutip penjelasan yang dikutip dari BBC, Man of the Hole adalah sosok pria sekaligus satu-satunya masyarakat adat penghuni hutan Amazon yang tersisa. Ia tercatat setidaknya telah hidup sendirian dan menghindar dari manusia selama 26 tahun terakhir.

Julukan Man of the Hole kabarnya diberikan karena ia menggali banyak lubang yang dalam. Lubang-lubang tersebut beberapa di antaranya digunakan untuk menjebak hewan dalam berburu, sementara yang lain dijadikan tempat untuk berbagai kebutuhan seperti tempat persembunyian.

  Mengenal deretan petani muda Indonesia di Hari Tani Nasional

Disebutkan bahwa awalnya dia masih hidup bersama dengan masyarakat adat lainnya. Namun pada awal tahun 1970-an, mayoritas sukunya dibunuh oleh para peternak yang ingin membuka lahan untuk memperluas tanah mereka.

Hingga pada tahun 1995, saat hanya tersisa sekitar tujuh anggota suku termasuk Man of the Hole, enam anggota di antaranya tewas dalam serangan oleh penambang ilegal. Sejak kejadian itu, hanya dia satu-satunya anggota suku yang selamat.

Sempat disangka jika suku pedalaman Amazon sepenuhnya habis, namun ternyata keberadaan sosok tersebut mulai terlihat di tahun 1996. Sejak saat itu, Badan Urusan Adat Brasil (Funai) mulai rutin memantau daerah tersebut untuk mempertahankan kehidupannya.

2. Akhir nafas anggota suku terakhir

Nahas, pada tanggal 23 Agustus 2022, tubuh dari Man of the Hole ditemukan sudah tak bernyawa di tempat tidur gantung di luar gubuk jeraminya. Disebutkan bahwa penemuan dilakukan oleh agen Funai Altair José Algayer dari Funai, saat melakukan patrol rutin.

Saat ditemukan, terungkap jika tubuh pria tersebut tertutup bulu burung makaw di tempat tidur gantung, di luar salah satu gubuk jeraminya.

  Ada puluhan kelompok masyarakat adat di lahan IKN, bagaimana nasibnya?

Lebih detail disebutkan bahwa tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuhnya saat ditemukan. Begitupun dengan gubuk tempat tinggal yang tidak menunjukkan tanda penyerangan atau sejenisnya. Diperkirakan, ia meninggal karena faktor alami di kisaran usia 60 tahun.

Ada hal menarik sekaligus pilu yang disampaikan oleh pakar masyarakat adat bernama Marcelo dos Santos. Dikatakan jika kemungkinan Man of the Hole sengaja meletakkan bulu-bulu makaw pada dirinya sendiri, kala mengetahui bahwa dia akan meninggal.

“Dia sedang menunggu kematian, tidak ada tanda-tanda kekerasan,” ujarnya.

Terungkap juga jika sebenarnya, pria tersebut diduga sudah meninggal 40-50 hari sebelum jasadnya ditemukan.

3. Potret kehidupan seorang Man of the Hole

Tempat tinggal Man of the Hole (J PESSOA/SURVIVAL INTERNATIONAL via BBC)

Sedikit membahas mengenai kehidupannya yang nyaris tidak terekspos, diketahui jika area tinggal Man of the Hole selama ini berada di cakupan sekitar 8.000 hektare bagian hutan hujan Amazon.

Meski tak pernah berinteraksi langsung dengan manusia modern, sosoknya selama ini banyak dijadikan simbol bukti terpuruknya kehidupan manusia adat di dunia. Pada tahun 2018, anggota Funai berhasil merekamnya dalam pertemuan tak sengaja di dalam hutan.

  Purwo Harsono, penjaga kelestarian hutan pinus Mangunan

Sejak saat itu, sosoknya tak pernah terlihat lagi karena memang menghindar dari manusia modern. Namun, sejumlah ekspedisi menemukan beberapa potret kehidupan menarik yang dijalani oleh Man of the Hole.

Sejumlah agen Funai mengatakan bahwa setidaknya ada sebanyak 50 lubang yang digali oleh pria tersebut. Di mana setiap lubang rata-rata memiliki kedalam sekitar tiga meter. Disebutkan bahwa lubang tersebut dipercaya memiliki makna spiritual bagi Man of the Hole.

Dari bukti yang ditemukan selama bertahun-tahun, ditemukan fakta bahwa sosok tersebut bertahan hidup dengan menanam jagung dan ubi. Ia juga disebut mengumpulkan madu serta buah-buahan seperti pepaya dan pisang.

Meninggalnya Man of the Hole sebagai anggota terakhir dari sukunya, menjadi bukti dan teguran keras bagi dunia mengenai potret kehidupan yang punah akibat pembangunan tak terkira di masa kini.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya