Singgih Kartono, pemberdaya desa yang angkat nilai ekonomi bambu

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Singgih Susilo Kartono (Instagram @singgihskartono)

Selama ini ada banyak sosok yang telah melakukan aksi nyata berupa pemberdayaan desa termasuk sumber daya yang ada di dalamnya. Dari sekian banyak sosok yang dimaksud, salah satu yang terbilang berhasil adalah Singgih Susilo Kartono.

Dirinya secara umum dikenal sebagai seorang seniman. Namun lebih dari itu, pria yang merupakan lulusan dari FSRD ITB ini telah membawa perubahan besar dan pemberdayaan masyarakat sekaligus peningkatan nilai ekonomi dari sumber daya yang tadinya memiliki nilai rendah.

Jadi sosok kunci dari tersohornya karya seni bermaterial alam desa hingga ke taraf internasional. Lebih detail mengangkat dreajat desa di kampung halamannya yakni Temanggung, ini ragam inisiasi yang dilakukan oleh Singgih.  

1. Tingkatkan nilai kayu dan bambu

Singgih dengan karyanya berupa Magno Wooden Radio (starchie.net)

Singgih pertama kali dikenal lewat terobosan membuat radio kayu dengan label Magno Wooden Radio pada tahun 2004. Kala itu, produk dengan tampilan retro tersebut berkembang menjadi karya yang mendunia.

Bahkan radio kayu yang dibuat Singgih sampai ditetapkan sebagai salah satu produk termewah versi majalah Time pada tahun 2008. Coba saja lakukan pencarian di mesin pencari layaknya Google dengan kata kunci “Wooden Radio”. Maka produk yang akan muncul paling atas adalah produk dengan label Magno garapan Singgih.

  Mengenal deretan petani muda Indonesia di Hari Tani Nasional

Pada tahun 2019, Singgih diketahui memiliki sekitar 30 karyawan yang berasal dari penduduk desa dalam industri rumahannya. Puluhan karyawan tersebut dipekerjakan untuk memenuhi permintaan radio yang terus datang dari berbagai negara.

Di samping berbisnis, apa yang Singgih lakukan sebenarnya adalah upaya untuk memberdayakan desa yang ada di Temanggung. Tak berhenti sampai di situ, ia rupanya masih merasa kurang puas kerisauannya tentang potensi desa.

2. Orang di balik Spedagi

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Singgih Susilo Kartono (@singgihskartono)

Pada akhirnya lahirlah terobosan baru berupa karya yang juga memanfaatkan material dari desa. Yakni sepeda dengan rangka yang dibuat dari bambu. Sepeda tersebut yang kemudian saat ini dikenal dengan nama Spedagi.

Tak dimungkiri, jika awalnya Singgih terinspirasi akan sepeda bambu karya Craig Calfee dari AS. Bukan hanya terbuat dari bambu, sepeda dengan desain tersebut dibuat dengan metoda kerajinan tangan. Sadar jika di kampung halamannya terdapat sumber daya baik dari alam dan kreatifitas kerajinan yang berpotensi menghasilkan produk serupa, ia akhirnya memulai proses pembuataan sepeda bambu.

  Ahmad Fahrizal, petani muda dengan misi lestarikan varietas alpukat asli Jakarta

Pengembangan desainnya sendiri dimulai awal tahun 2013, sampai akhir tahun 2014 kegiatan produksi dimulai. Hal tersebut berjalan seiring penyempurnaan berkelanjutan dalam hal desain dan proses produksi.

Terkenal ke berbagai negara seperti AS, Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan masih banyak lagi. Sepeda ini juga yang nyatanya digunakan pada saat Presiden RI Joko Widodo bersepeda bersama dengan Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, di kawasan Kebun Raya Bogor.

Lebih lanjut, sepeda bambu Spedagi sendiri bukan hanya wujud produk berbasis sumber daya desa, namun juga menjadi pemicu awal dari lahirnya gerakan Revitalisasi Desa Spedagi.

3. Revitalisasi desa lewat papringan

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Pasar Papringan (@pasarpapringan)

Upaya pemberdayaan desa terus berkembang, setelah Spedagi munculah gerakan revitalisasi yang menciptakan wujud pasar papringan yang berada di desa Ngadiprono.

Singgih kembali ingin meningkatkan kesadaran akan pentingnya memanfaatkan sumber daya dari desa tersebut yakni bambu. Di mana tadinya keberadaan kebun bambu di sana kerap disepelekan dan berujung menjadi sumber daya yang terbengkalai.

Menggandeng pemuda asli Desa Ngadipuro yakni Imam Abdul Rofiq dan rekan lainnya, mereka mengawali penggarapan dengan melakukan pemetaan sosial. Ia awalnya mendatangi warga dari pintu ke pintu, melakukan puluhan kali pertemuan formal dan informal, dan berbagai upaya penjajakan lainnya.

  Tini Kasmawati sang penjaga Owa Jawa dari Sukabumi

Yang menarik, sejak awal warga desa setempat turut diajak memikirkan akan seperti apa pemberdayaan yang berjalan. Hal tersebut bertujuan agar tidak terjadi kesan bahwa mereka adalah penerima bantuan, melainkan pihak yang juga terlibat dalam pengembangan potensi desa tersebut.

Mereka mulai me-rekoleksi berbagai macam makanan tradisional mulai dari gatot, tiwul, wedang, gudeg, sayuran, dan buah-buahan hasil bumi, makanan kering, hingga mainan kayu. Digelar perdana pada tahun 2016, akhirnya mereka berhasil menyulap hutan bambu papringan yang tadinya kumuh, gelap, dan banyak nyamuk menjadi pasar yang bersih dan tertata.

Diketahui jika sekitar 80 persen dari 110 kepala keluarga di desa tersebut turut berpartisipasi sebagai pedagang. Sebelum hari pembukaan tiba, biasanya warga akan bergotong royong melakukan pembersihan dan berbagai persiapan untuk pembukaan pasar papringan.

Bahkan dalam satu hari pembukaan pasar, diperkirakan ada sekitar 3.000 pengunjung yang datang. Lain itu juga terungkap jika perputaran ekonomi di pasar papringan bisa mencapai Rp90 juta untuk satu hari.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya