Surinanto, penikmat ketenangan masa pensiun dengan bertani

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Menikmati masa tua dengan menjalani kehidupan yang santai mungkin menjadi impian bagi hampir kebanyakan orang. Setelah menghabiskan usia produktif dengan bekerja di berbagi bidang yang digeluti masing-masing, biasanya gambaran yang dimiliki saat mencapai usia senja adalah dengan menjalani kegiatan yang tidak terlalu menguras energi.

Namun hal tersebut nampaknya bukanlah menjadi suatu pilihan bagi Surinanto, sosok pria berusia 60 tahun yang berasal dari Semarang, Jawa Tengah. Saat beberapa orang di kisaran usianya memilih untuk rehat, Surinanto rupanya telah memilih caranya sendiri untuk menikmati masa pensiun, yakni tetap produktif dengan cara bertani.

Meski disebut sebagai kegiatan sampingan untuk menikmati masa tua, rupanya tetap ada kerugian besar dari segi materi yang sempat dialami sejak awal memulai masa ‘pensiunnya’ tersebut.

Seperti apa kehidupan pensiun dengan cara bertani yang dijalani Surinanto?

1. Profit bukan tujuan utama

Mengutip Sari Agri, Surinanto sendiri diketahui merupakan pensiunan karyawan Koperasi Peternakan di Pangalengan, Bandung. Akrab disapa dengan panggilan Suri, pada tahun 2014 ia pensiun dan memutuskan kembali ke Semarang.

  Mayoritas petani berusia di atas 40, ancaman kedaulatan pangan?

Tidak langsung memilih menjadi petani, Suri rupanya sempat menjalani hari-hari kehidupannya tanpa aktivitas yang berarti.

“Setelah pensiun dari sana, saya sempat pulang ke Semarang, saat itu saya cuma luntang-lantung, alias makan, tidur, main,” ujar Suri.

Tak lama di tahun yang sama, ia mendapat tawaran untuk kembali ke Jawa Barat, lebih tepatnya untuk menggarap lahan pertanian di Desa Sukanagalih, Pacet, Cianjur, Jawa Barat. Menurut penuturan Suri, ada seorang teman yang mendapat dana bantuan dari pihak yang berasal Kanada untuk pengembangan kesehatan lingkungan dan pemanfaatan limbah.

Saat itu menjadi awal mula ia bersama temannya menggarap sebuah lahan pertanian yang saat ini sudah berkembang mencapai 3 hektare.

“Saya bertani bukan untuk cari profit yang utama, yang penting saya masih produktif di usia saya ini. Coba kalau saya cuma makan tidur gimana? kalau bertani ini saya banyak gerakan badan terasa lebih sehat,” jelas Suri.

2. Kehilangan materi Rp400 juta

 

Meski lahan pertaniannya sudah terbilang luas, namun bukan berarti hal tersebut diraih secara mulus dan tanpa hambatan. Masih menurut sumber yang sama, diketahui jika Suri dan temannya sempat mengalami kegagalan panen akibat komoditas pertanian yang ditanam kurang cocok dengan lahan dan wilayahnya, yakni kentang.

  Dewi Sri, mitologi bagi tradisi kesuburan pertanian di Nusantara

Akibat dari kejadian tersebut, Suri dan temannya harus merelakan uang yang telah digunakan untuk memulai pertanian awal dengan nilai mencapai Rp400 juta.

“saya bilang ke teman saya itu kalau untuk kentang daerah sini kurang bagus, karena dari jenis tanah dan ketinggian tempat yang kurang. Tapi dia bersikeras, akhirnya saya tetap coba, ternyata gagal. Rp400 juta melayang saja,” kenangnya.

Pada akhirnya, Suri mulai mencari jalan aman dengan mengikuti kearifan lokal yang ada, yakni dengan memilih komoditas yang memang sesuai serta banyak ditanam oleh petani sekitar, yaitu tomat dan cabai. Namun sayang, saat ingin memulai langkah yang baru temannya memilih mundur.

Sementara itu Suri memutuskan untuk melanjutkan pertanian seorang diri, karena ia mengaku merasa bisa mendapatkan kebebasan dan ketenangan dari bertani.

3. Pandangan Surinanto akan pertanian

Lebih dari 6 tahun menjalani kegiatan bertani, rupanya Suri memiliki pandangan tersendiri mengenai bidang pertanian yang selama ini dijalani, yakni mengenai ketidakadilan dalam rantai pemasaran yang muncul akibat kebiasaan para tengkulak.

  Aprilani Soegiarto dan berdirinya Lembaga Oseanografi di Indonesia

“Saya merasa tidak adil untuk petani, selama ini yang banyak mengambil keuntungan itu tengkulak daripada petani,” ungkap Suri.

Berangkat dari permasalahan tersebut, Suri akhirnya kini lebih mengutamakan untuk memasok hasil panennya sendiri secara langsung ke pasar pengecer. Meski diakui, hal tersebut juga masih memiliki tantangan karena penyerapan atau pengambilan hasil panennya tidak bisa berjalan dalam skala besar.

Melihat situasi yang ada, Suri berharap tata niaga pertanian yang berlaku di Indonesia bisa lebih diperbaiki oleh pemerintah, agar para petani memiliki kesejahteraan yang lebih layak.

“Jadi seharusnya setiap komoditas pertanian juga bisa ditetapkan harga pokok penjualan (HPP)-nya kayak padi saja,” ucap Suri, membeberkan salah satu solusi terbaik menurutnya.

Foto:

  • sariagri.id
  • pxhere.com
  • sei.org

Artikel Terkait

Artikel Lainnya