Teguh Ostenrik, seniman pelestari terumbu karang melalui instalasi seni

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Teguh Ostenrik, seniman yang buat instalasi ARTificial Reef (YouTube Teguh Ostenrik)

Selain buku, lagu, atau film, ada satu lagi jenis karya yang dibuat oleh kalangan seniman dengan kepedulian terhadap lingkungan, yakni instalasi seni. Yang menarik, seni yang dibuat bukan berupa karya tak berwujud, melainkan memiliki wujud fisik yang berkontribusi langsung bagi lingkungan.

Adalah Teguh Ostenrik, seniman kawakan tanah air yang tidak hanya mencurahkan keahliannya untuk membuat lukisan atau patung. Pria yang sudah menginjak usia 70 tahun tersebut nyatanya menghadirkan instalasi seni yang diterjunkan ke dasar laut, dan di saat bersamaan berperan dalam upaya pelestarian terumbu karang.

Bagaimana caranya instalasi seni yang dimaksud dapat berperan dalam melestarikan terumbu karang? Berikut ceritanya.

1. Berbuat sesuatu untuk negeri

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Teguh Ostenrik (@teguhostenrik)

Ide Teguh dalam membuat instalasi seni sebagai media terumbu karang dimulai pada tahun 2013. Menurutnya, sebagai seorang seniman kala itu ia diundang oleh salah satu pihak resort di Bali untuk membuat karya dekorasi hotel.

Namun Teguh menolak, karena menurutnya hal tersebut sudah terlalu biasa. Ia malah mengajukan, jika memang ingin, dirinya lebih ingin membuat sesuatu yang baru dan bisa bermanfaat bagi negeri.

  Dari Jokowi hingga Dubes Jerman, ini deretan ‘protes’ dari pegiat lingkungan cilik Indonesia

“mereka minta presentasi, lalu saya membuat konsep instalasi seni yang ditenggelamkan ke laut. Kemudian menjadi tempat karang tumbuh dan akhirnya menjadi terumbu karang.” terang Teguh.

Karena berangkat dari seni, kemudian instalasi tersebut dinamakan ARTificial Reef. Karena selain pelestarian, tujuan utamanya juga menjadikan intalasi tersebut sebagai titik diving di bawah air berupa rumah bagi biota laut.

Teguh juga mengungkap jika seni tersebut tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, namun dapat membuka nafkah bagi orang-orang di sekitarnya.

“Instalasi tersebut menjadi dive spot tentu-ibu-ibu sekitar yang biasa menawarkan jasa mengangkat botol oksigen kecipratan rezeki. Belum lagi yang punya perahu, dive master-nya, dan lain-lain. Jadi ibarat sekali tepuk dua-tiga lalat tertangkap.” ucap Teguh lagi.

2. Filosofi sesuai karakter lingkungan

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Teguh Ostenrik (@teguhostenrik)

Per tahun 2021 lalu, terhitung jika setidaknya ada sebanyak 10 instalasi seni yang sudah diturunkan ke dasar laut. Salah satu instalasi yang dimaksud terdiri dari Domus Musculi atau rumah siput di Kepulauan Seribu.

  Surinanto, penikmat ketenangan masa pensiun dengan bertani

Lain itu ada juga Domus Longus atau rumah panjang di Wakatobi, Domus Piramidis Dogong atau rumah piramida dugong di Pulau Bangka. Tak lupa Domus Sepiae atau rumah cumi-cumi di Lombok, dan Domus Coronarius Circularis di Banyuwangi.

Menurut Teguh, ragam penamaan itu diberikan karena memiliki makna atau filosofi sesuai dengan kondisi dan karakter masing-masing wilayah.

“Contohnya di Lombok yang pertama itu Domus Sepiae saya buat untuk menghormati keberadaan cumi-cumi. Karena waktu saya pertama kali menyelam di Senggigi tahun 1984, itu karangnya masih bagus. Terkenal akan gudangnya cumi-cumi dan lobster tapi sekarang sudah seperti gurun pasir alias sudah habis.” ujarnya.

3. Tuduhan merusak lingkungan terumbu karang

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Teguh Ostenrik (@teguhostenrik)

Tak selalu disambut dengan baik, rupanya apa yang Teguh lakukan juga mendapat beberapa tuduhan perusakan lingkungan oleh segelintir pihak. Karyanya justru dinilai merusak terumbu karang yang sudah ada dalam penurunan dan keberadaannya selama di dasar laut.

  Babeh Idin, pencipta hutan kota Pesanggrahan asli Betawi

Menanggapi hal tersebut, Teguh rupanya memiliki penjelasan sendiri. Menurutnya sejak awal perencanaan hingga eksekusi, apa yang ia dilakukan sudah melakukan pertimbangan dan melibatkan sejumlah pihak asli dari berbagai bidang terkait.

“Dari awal pasti kami memiliki tim survei. Semuanya dilakukan dengan berkonsultasi lebih dulu dengan berbagai pihak yang memang memiliki wewenang dan penilaian mengenai kondisi di lapangan yang sesungguhnya.”

Teguh juga menegaskan jika setiap proyek tersebut, pihak yang dilibatkan terdiri dari berbagai perwakilan disiplin ilmu. Mulai dari tenaga sipil, 3D operator, teman-teman kelautan, marine biology. Ia juga menngungkap adanya keterlibatan mahasiswa asal sejumlah universitas, yang bekerja sama dalam meneliti pertumbuhan lanjutan.

Jadi instalasi yang diturunkan tidak ditinggal begitu saja, namun dicatat dan dilaporkan penumbuhannya dalam periode tertentu.

“Dari awal kita turunkan instalasi itu ke laut setiap hari selalu ada yang mengawasi. Kalau ada karang yang mati dilepas lalu dibuat pembibitan lagi, setiap karang yang di transplant itu difoto lalu dikasih nomor. Setiap dua bulan dibuat laporan sudah tumbuh berapa sentimeter, segala macam itu kita ada timnya.” jelas Teguh.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya