Tini Kasmawati sang penjaga Owa Jawa dari Sukabumi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Tidak semua orang memiliki hati yang tergerak untuk peduli terhadap satwa liar yang ada di alam. Perlu mengalami momen ‘panggilan khusus’ dari hati untuk menjadi seseorang yang memiliki rasa kecintaan tinggi terhadap lingkungan. Salah satu sosok yang sudah mengalami hal tersebut adalah Tini Kasmawati.

Bukan berasal dari seseorang yang aktif melakukan kegiatan alam. Dan tidak juga dirinya memiliki kelebihan dari segi materi untuk menjamin kehidupan satwa liar. Namun nama Tini cukup dikenal sebagai seorang perempuan yang menjaga kelestarian owa jawa di Sukabumi.

1. Berawal dari rasa malu

Sama seperti masyarakat biasa, Tini awalnya hanya warga biasa di Kampung Cimaranginan, Desa Lengkong, Sukabumi. Ia tahu jika di hutan daerah tempat tinggalnya hidup sekelompok satwa cukup langka yakni owa jawa.

Namun keingintahuan tersebut belum membuat Tini mencari tahu lebih jauh. Semuanya baru berubah sejak 2014, saat kampungnya kedatangan mahasiwa dari Belanda yang ingin melakukan penelitian terhadap owa jawa.

Tini heran, karena mereka rela datang ribuan kilometer dan menghabiskan uang yang tidak sedikit hanya untuk mempelajari owa jawa.

  Mengenal sosok Ishak Warnares, sang pembudidaya kayu putih

“Mereka (orang Belanda) yang datang jauh dari sana dengan biaya sampai ratusan juta begitu peduli. Kenapa saya yang notabene lahir dan besar di sini tidak, padahal otomatis owa jawa yang ada di sini milik kita, milik orang Lengkong khususnya orang Indonesia” terang Tini, dalam Sukabumi Update.

2. Menjadi keluarga

Owa Jawa yang diurus oleh Tini (Tommy Ardiansyah/Reuters)

Sejak saat itu akhirnya hati Tini mulai tergerak. Ia mendekati beberapa ekor owa jawa yang kemudian diurus kehidupannya. Sudah 8 tahun lamanya Tini menjaga kehidupan sekelompok owa jawa yang terdiri dari 4-5 individu.

Tini setiap harinya rutin memberi makan berupa buah-buahan kepada kelompok owa jawa tersebut. Kegiatan itu ia lakukan pada waktu subuh dan siang, atau sore hari.  Bukan tanpa alasan Tini melakukan hal itu, pasalnya para owa jawa disebut sudah kesulitan mencari makan.

Akibatnya, hewan tersebut kerap masuk ke pemukiman dan berlarian di atap rumah warga hanya untuk mencari makan. Yang paling parah, pernah ada owa yang mati tersengat kabel listrik karena mencari makan terlalu dekat dengan pemukiman.

  Mengintip kreativitas pendirian kebun organik di perkotaan garapan Sutomo

Dalam memberi makan, Tini menggunakan ember berisi buah yang dikatrol manual ke atas pohon di hutan. Dalam beberapa menit, para owa akan muncul mengambil buah kemudian menghampiri Tini dan tak jarang menempel di dadanya.

Para owa tersebut rupanya sudah akrab dengan sosok Tini layaknya keluarga. Tini bahkan sampai memiliki julukan khusus untuk masing-masing individu owa dari kelompok tersebut.

“Yang ukuran sedang itu Tina jelas, yang paling kecil itu pasti Naruto. Kalau yang agresif mengambil makanan dari tangan saya lalu lari itu Abah, dan Ema biasanya cenderung lebih diam di atas pohon jika ada orang asing di sekitar dia” ungkap Tini panjang lebar.

3. Penjual kopi dan tunanetra

Yang membuat kagum, kegiatan mulia tersebut tak henti Tini lakukan selama 8 tahun di tengah keterbatasan yang dimiliki. Nyatanya, Tini mengalami kondisi tunanetra dengan sebelah mata yang masih bisa melihat dengan samar dan tidak terlalu jelas.

Lain itu, selama ini dia juga hanya mengandalkan hidup dari berdagang kopi di lingkungan dekat kantor Perum Perhutani tempat tinggalnya. Dari hasil berjualan itu, ia bahkan lebih sering memperoleh pendapatan kurang dari Rp50 ribu. Namun dari pendapatan itu lah, dirinya membeli buah-buahan untuk makanan para owa.

  Farwiza Farhan, dipuji Bill Gates dan masuk daftar TIME100 Next 2022

“Lebih sering di bawah Rp50 ribu dibanding di atasnya, (tapi) saya mencoba berbagi dengan mereka (owa jawa). Kalau untuk saya sendiri bisa makan apapun yang sekiranya bisa saya konsumsi, sementara mereka kalau enggak ada buah-buahan enggak bisa makan” jelas Tini.

Tini berharap apa yang ia lakukan dapat membantu melestarikan owa yang tersisa. Sebenarnya Tini memiliki mimpi besar, dan berharap ada orang dermawan yang ingin membeli lahan di wilayah tersebut untuk dijadikan lahan konservasi.

“Suatu kehormatan saya bisa melakukan ini, tidak banyak orang di luar sana yang mau atau bisa melakukan ini. InsyaAllah, selama saya masih bisa berjalan, saya tidak akan berhenti,” ujar Tini, mengutip Reuters.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya