Titik balik kehidupan Mawi, pemburu Harimau Sumatra yang tobat setelah 45 tahun

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Mawi pemburu harimau
Mawi mantan pemburu harimau (Yayasan Lingkar Inisiatif via BBC Indonesia)

Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), merupakan salah satu jenis hewan endemik Indonesia yang saat ini berada di ancaman kepunahan. Per tahun 2018, disebutkan hanya tersisa 603 ekor harimau sumatra yang tersisa di habitat aslinya. Salah satu penyebab kepunahan mereka adalah eksploitasi dari pemburu liar.

Bukan sekali dua kali, laporan mengenai berakhir tragisnya sejumlah individu harimau Sumatra akibat jerat pemburu liar sudah banyak terjadi. Beberapa berhasil ditemukan dan ditindak dengan layak. Namun entah berapa banyak pula yang tak terekspos dan berakhir di tangan para pemburu untuk diperdagangkan.

Mawi, namanya belakangan menjadi pembicaraan di kalangan pegiat dan bidang lingkungan. Ia lah salah satu sosok pemburu yang dimaksud, setidaknya sebelum dirinya ‘tobat’ sekitar tiga tahun lalu.

Bagaimana dosa pemburuan yang selama ini Mawi lakukan, dan apa hal yang membuat Mawi memutuskan untuk berhenti?

1. Memburu harimau sejak 1971

Mawi (Nova Wahyudi/Antara)

Berlangsung selama 45 tahun, kegiatan memburu harimau yang dilakukan Mawi rupanya sudah berlangsung sejak tahun 1971. Mengutip keterangan dalam publikasi BBC Indonesia, Mawi bukanlah satu-satunya orang yang selama ini melancarkan aksi pemburuan.

Ada sekitar lebih dari 10 pemburu di kawasan hutan rimba Sumatra yang melakukan hal sama. Pada bulan Juli lalu, mereka semua melakukan ikrar tobat untuk lepas dari perbuatan tersebut. Diketahui, jika puluhan orang tersebut termasuk Mawi, merupakan pihak yang bertanggung jawab dari tewasnya sekitar 200 ekor harimau Sumatra.

  Babiat Sitelpang, legenda harimau yang dipanggil Ompung oleh Orang Batak

Di sisi lain Mawi, seorang diri, menjadi satu-satunya pemburu yang telah membunuh individu harimau paling banyak, yakni skitar 150 ekor.

“Saya telah membunuh harimau kurang lebih 150 ekor. Boleh dibilang terbanyak di sini,” ujarnya, mengutip sumber yang sama.

Mirisnya, jumlah tersebut lebih besar dari jumlah harimau Sumatra yang tersisa di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) saat ini.

2. Jerat kaki dan karma Mawi pemburu harimau

Kaki Mawi (via BBC Indonesia)

Bagaimana cara Mawi dan pemburu lainnya mengeksekusi harimau? Jawabannya adalah persis seperti banyaknya laporan mengenai harimau yang ditemukan sekarat atau bahkan mati akibat terjebak jerat kaki.

Dijelaskan bahwa Mawi dan kelompoknya, biasa memasang jebakan jerat kaki yang terbuat dari kawat baja. Ketika terperangkap, mereka kemudian mengakhiri nyawa setiap harimau yang terjebak dengan ditembak atau dipukul dengan kayu.

Bagaimana jika ada harimau yang berhasil lepas atau selamat? Hewanmalang tersebut akan berakhir cacat dan akhirnya hidup di taman safari atau kebun binatang.

Nasib malang tidak berhenti bagi harimau yang terperangkap. Setelah mati, hewan tersebut akan dikuliti dengan pisau dan tangan para pemburu untuk dipisahkan setiap bagian tubuhnya, mulai dari kulit, tulang, dan daging.

  Mengenal sosok Ishak Warnares, sang pembudidaya kayu putih

Setiap bagian dari harimau tersebut dijual di pasar gelap. Ada yang berakhir untuk diolah menjadi obat tradisional dan ada yang menjadi koleksi pribadi para pembeli. Ekstremnya, saat dikuliti tak sedikit juga pemburu yang ikut memakan daging harimau.

Kembali ke persoalan jerat kaki yang biasa digunakan untuk menjebak harimau, nyatanya ada satu kondisi yang oleh Mawi sendiri kini disebut sebagai karma. Seperti halnya kaki para harimau yang berakhir terpotong atau busuk, Mawi di bagian kakinya kini juga mengalami kondisi yang membuatnya tak nyaman.

Kedua kakinya diakui begitu gatal dan nampak ruam merah hingga kehitaman.

“Sudah segala obat dipakai, namun tidak sembuh. Mungkin ini karma akibat pasang jerat harimau yang melukai kaki” ujar Mawi.

3. Niat melindungi, ketagihan, dan pertobatan

Kegiatan Mawi kini (Nova Wahyudi/Antara)

Mawi pertama kali memburu harimau pada tahun 1971, lantaran diminta tolong oleh warga yang resah atas serangan hewan buas tersebut. Mawi mengenang, jika dalam satu tahun kala itu ada lima orang warga yang dibunuh harimau.

Namun niat awal yang bertujuan melindungi, menjadi candu karena rupanya dapat mendatangkan pundi-pundi rupiah yang besar bagi pria berusia sekitar 65 tahun tersebut.

“Seperti (melihat) tumpukan uang yang bergerak,” ujar Mawi, saat menjelaskan betapa ia tidak pernah diserang bahkan takut ketika berhadapan dengan harimau.

  Pada 2022 ditargetkan meningkat, populasi harimau di Asia Tenggara malah menurun

Beberapa bagian tubuh dari satu ekor harimau, menurutnya bisa dijual hingga kisaran Rp30 juta. Ia pun dengan gamblang jika pembeli hewan langka tersebut merupakan orang-orang cukup berpengaruh di Indonesia. Mirisnya, bahkan ada juga yang berasal dari latar belakang pelindung hewan langka atau organisasi lingkungan.

Mengenai awal mula keputusan mengakhiri kegiatan kejianya, Mawi menjelaskan jika semua berawal saat ia bertemu dengan seorang pria bernama Iswadi.

Iswadi yang berasal dari Yayasan Lingkar Inisiatif, membujuk Mawi dan menawarkan Mawi melakukan kegiatan alternatif. Tak serta merta langsung menuruti, butuh waktu dua tahun bagi Mawi untuk benar-benar menanggalkan peralatan berburunya.

Mawi juga mengakui jika dirinya kini ibarat mengalami perubahan hidup yang sangat berbeda. Dari yang tadinya bisa memperoleh pendapatan puluhan juta, namun kini tak memiliki pemasukan sama sekali.

Kini, Mawi hanya berharap jika dirinya hanya minta diperhatikan oleh pemerintah mengenai jaminan pekerjaan yang layak. Karena jika tidak bukan lagi perkara dirinya, tapi 20 orang lain yang ikut berhenti berburu karena menghormati Mawi bisa saja kembali berburu.

“Kami minta tolong diperhatikan. Saya takut pemburu lain yang telah bertobat akan kembali lagi berburu. Percuma saya bertobat kalau yang lain kembali berburu. Harimau akan punah,” ujar Mawi.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya