Pasca berakhirnya Kerajaan Pajajaran (Bagian 2): Saksi bisu kehancuran Pajajaran

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Watu Gilang di situs Banten Lama (http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/)

Pada saat etos solidiritas ini telah merosot tepatnya pada hari sabtu, tanggal 8 Mei tahun 1579 Masehi, Pakuan Pajajaran mendapat serangan dari Kesultanan Banten pimpinan Panembahan Maulana Yusuf. Kesultanan Banten berhasil menguasai daerah pendalaman dan pusat pemerintahaan kerajaan Pakuan Padjadjaran di Bogor. Pajajaran sirna ing ekadaca cuklapaksa wesha kamasa sewu limangatas punjul siki ikang cakakala”  

Sekitar 800 anggota Kerajaan Sunda Padjadjaran mengundurkan diri ke lereng Gunung Cibodas, Gunung Palasari, Jayanga (Jasinga sekarang), sekitar Bayah, dan bahkan ke daerah pertapaan Sanghyang Sirah dan Borosngora di Ujung Kulon, serta ke Lemah Parahyangan (di Kawasan Masyarakat Baduy sekarang).

Komunitas ini yang sekarang tersebar dan masih memegang teguh adat tradisi leluhurnya disebut kelompok sosial Kasepuhan Adat Banten Kidul.

Mengambil keputusan strategis

Pada saat Padjadjaran dikepung dan diserang, Prabu Ragamulya Suryakancana setelah bermusyawarah dengan penasehat Kerajaan memutuskan:

  1. Prabu Ragamulya beserta senapatinya sebelum meninggalkan Pakuan akan menimbulkan kerugian besar terlebih dahulu pada pihak musuh, untuk menunjukan jati diri seorang kstaria Sunda.
  2. Prabu Ragamulya, permaisuri dan purohita keraton seterusnya bermaksud mengasingkan diri ke suatu tempat yang dirahasiakan untuk melakukan ‘manu raja suniya’.
  3. Senapati Jayaperkasa, Pancer Buana, Nangganan, dan Kondang Hapa diutus ke Sumedang membawa surat perintah raja kepada Pangeran Angka Wijaya (Geusan Ulun) agar meneruskan kepemimpinan kerajaan Sunda, sekaligus menyerahkan pula MAHKOTA KEPRABON dan pusaka lainnya yang ada di Pakuan Pajajaran.
  4. Senapati Kumbang Bagus Setra dan istrinya Putri Dewi Purnamasari (kelak mendirikan kota Pelabuhan Ratu) beserta Rakean Kalang Sunda dengan maksud melindungi raja sekaligus mengecoh pasukan Banten akan menyamar sebagai raja, yang melarikan diri ke pantai selatan.
  5. Sebagian prajurit jagapati keluar dari Pakuan Pajajaran untuk melindungi rombongan raja dan rombongan lainnya, dan sebagian lagi mempertahankan purasaba untuk memberikan kesempatan kepada rombongan yang keluar dari istana Pakuan.
  6. Menugaskan tiga pimpinan utama Pasukan khusus Bareusan Pangawinan, yaitu Demang Haur Tangtu, Guru Alas Luminang Kendungan, dan Puun Buluh Panuh yang ditugaskan raja untuk menyelamatkan Hanjuang Bodas (Cordyline fruticosa) yg ditanam Raden Wilang Nata Dini, namun yang dibawa ternyata Pakujajar (Cycas rumphii).
  Pasca berakhirnya Kerajaan Pajajaran (Bagian 1): Penyebab runtuhnya Pakuan Pajajaran
Mahkota Binokasih Sumedang Larang (Wikipedia)

Tegal Buleud

Di ujung pengungsian selanjutnya Prabu Ragamulya dan rombongan tiba di sebuah tanah lapang yang sangat luas bulat. Banyak terdapat banteng dan rusa di tanah tersebut. Tempat sekarang berada di daerah Jampang Selatan, tepatnya menjadi sebuah kecamatan yang bernama Tegal Buleud.

Prabu Ragamulya melakukan pidato perpisahan yang dramatis dan bermakna, yang kita kenal dengan nama Wangsit Siliwangi. Di tempat ini pula Prabu Ragamulya  sebelum Ngahiyang (menghilang) membagi-bagi pengikutnya ke dalam kelompok kecil dan membiarkan mereka memilih jalan hidup masing-masing.

Berikut sebagian pidatonya yang terdapat dalam Pantun Bogor. Penulis lebih menyoroti petuah-petuah kepada rombongan yang akan menuju daerah sebelah barat, karena penulis yakin bahwa mereka itulah leluhur bagi saudara-saudara kita yang sekarang dikenal dengan Kesatuan Masyarakat Adat Kasepuhan Banten Kidul (SABAKI).

  1. Lalakon urang ngan datang ka poe ieu! Najan dia kabehan ka ngaing pada satia, tapi ngaing henteu meunang mawa dia kabehan kabawa-bawa ngilu hirup jadi balangsak, ngarilu rudin bari lalapar!

Artinya : Perjalanan kita sampai disini. Walaupun kalian semua setia padaku ! tetapi aku tidak boleh membawa kalian dalam masalah ini, membuat kalian susah, ikut merasakan miskin dan lapar.

  1. Dia sakabeh kudu marilih, supaya engke jaga pikeun hirup kahareupna, jembar senang sugih mukti, bisa ngadegkeun deui Pajajaran.

Artinya : Kamu semua harus hati-hati memilih, agar nanti di kehidupan mendatang mendapatkan kebahagiaan, makmur dan sentosa, agar bisa berdiri kembali Pajajaran.

  1. Tapi lain Pajajaran nu kiwari, tangtu Pajajaran anyar, anyar diadegkeunana, nu ngadegna digeuingkeun ku obahna jaman.

Artinya : Tapi bukan Pajajaran seperti sekarang, tentu Pajajaran baru, baru didirikan, berdirinya tentu sesuai dengan perubahan zaman.

  1. Geura ieu darengekeun, nu dek tetep ngilu jeung ngaing, geura misah ka beulah KIDUL. Nu hayang balik deui ka dayeuh nu ditinggalkeun, geura misah ka beulah KALER.

Artinya : Kini dengarkan semua, yang ingin tetap ikut dengan ku, berpisahlah ke sebelah Selatan. Yang ingin kembali lagi ke kota yang ditinggalkan, cepat memisahkan diri ke Utara.

  1. Anu moal ngilu ka sasaha, geura misah ka beulah KULON. Ari nu rek kumawula ka nu keur jaya, geura misah ka beulah WETAN.

Artinya : Yang tidak ikut kemana-mana, berpisahlah ke sebelah Barat. Bagi yang akan mengabdikan diri kepada yang sedang berjaya, berpisahlah ke sebelah Timur.

  1. Anu anggeus marisah, sewang-sewangan ngadegkeun tilu kokolot. Laju marilih kokolot. Saban rombongan tilu kokolot.

Artinya : Yang sudah berpisah segera mendirikan tiga sesepuh. Kemudian mereka mengikuti perintah Prabu Ragamulya untuk memilih Sesepuh. Jadi setiap rombongan mempunyai tiga sesepuh.

  1. Ceuk Prabu Ragamulya ka tilu kokolot (menurut penulis : Demang Haur Tangtu, Guru Alas Lumintang Kendungan, dan Puun Buluh Panuh) ti beulah KULON. Papay ku dia lacak KI SANTANG, sabab turunan dia jadi panggeuing ka batur-batur urut salembur, ka dulur-dulur nu baheula nyorang sauyunan eujeung dia, jeung ka sakabeh bangsa sunda rancage hate.

Artinya : Kata Prabu Ragamulya kepada tiga kasepuhan (menurut penulis yang dimaksud adalah Demang Haur Tangtu, Guru Alas Lumintang Kendungan, dan Puun Buluh Panuh) di sebelah Barat. Cari sama kalian perjalanan KI SANTANG, karenanya keturunan kalian akan mengingatkan (pemberi peringatan) kepada orang lain yang pernah semula satu daerah,  kepada kerabat yang.setia dan kepada semua orang Sunda yang bersih hatinya.

  1. Engke jaga amun teungah peuting ti gunung Halimun ku arinyana kadenge sora tutunggulan, tah eta tanda nu teu sulaya. Saturunan dia disambat ku rek kawin di Lebak Cawene. Ulah talangke, sabab talaga bakal bedah.

Artinya : Nanti suatu saat di tengah malam, dari gunung Halimun (: sekarang TNGHS) terdengar suara meminta tolong. Nah itulah tandanya. Seketurunanmu diundang oleh yang akan menikah di LEBAK CAWENE. Jangan ditunda-tunda, sebab telaga (danau, bendungan) akan roboh.  

  1. Jig geura narindak, tapi ulah ngalieuk ka tukang! Anu sasadia di tegalan beulah kulon, laju narindak, narindak laju ka kulon.

Artinya : Silahkan segera berangkat, tapi jangan menoleh ke belakang. Kemudian rombongan yang memisahkan diri ke sebalah barat berangkat menuju ke sebelah barat. 

  Pasca berakhirnya Kerajaan Pajajaran (Bagian 5): Asal mula berdirinya Kota Palabuhan Ratu

Demang Haur Tangtu, Guru Alas Lumintang Kendungan, dan Puun Buluh Panuh berserta rombongannya kemudian menempati daerah Jasinga dan sekitarnya, sebelum keturunannya kelak menyebar ke beberapa daerah seperti Citorek Banten, Cipatat Sukajaya Bogor, Lebak Larang dan Bayah Banten Kidul. Nama-nama daerah seperti Guradog, Ngasuh, Cigelung dan sekitar perkebunan Haur Bentes menjadi sangat menarik untuk diteliti sejarawan.

Panembahan Maulana Yusuf

Kembali kepada kisah Panembahan Maulana Yusuf yang setelah beberapa waktu tinggal di Pakuan, kemudian kembali ke Banten membawa ‘Watu Gilang’ atau ‘Palangka Batu Sriman Sriwacana’ yang merupakan batu tempat penobatan raja ke Ibukota Surosowan.

Sebelum kepulangannya, ia menyatakan bahwa daerah Purasaba Pakuan sebagai daerah larangan (Ambogori). Untuk mengawasi bekas Purasaba PAKUAN PAJAJARAN, penguasa Banten itu mempertahankan penempatan pasukan Banten di Muaraberes (sekarang dekat Sukahati Cibinong) dan Tanjung Barat (sekarang dekat Pasar Minggu Jakarta).

Beberapa bulan setelah penyerbuan ke Pakuan, Panembahan Yusuf menderita sakit berkepanjangan sampai wafatnya pada tahun 1580.

Belum ditemukannya sumber sejarah yang menjelaskan situasi kondisi kota Bogor sebagai ibukota dan juga informasi kerajaan Pakuan Pajajaran setelah diserang oleh Banten, membuat kita kehilangan jejak sejarah yang sangat penting. Satu-satunya sumber–walaupun tersamar–yang bisa kita gali adalah sedikit informasi dari  Pantun Bogor yang disusun oleh Ki Buyut Baju Rambeng.

  Pasca berakhirnya Kerajaan Pajajaran (Bagian 1): Penyebab runtuhnya Pakuan Pajajaran

Informasi selanjutnya kita bisa membaca dari laporan tiga tim ekspedisi VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie/Perserikatan Kumpeni Hindia Timur Belanda) ke bekas istana Kerajaan Pajajaran, yang dipimping oleh : Scipio (1687 M), Adolf Winkler (1690 M), dan Abraham van Riebeeck (1703, 1704, 1709).

(Bersambung)

Artikel Terkait

Artikel Lainnya