Begini cara urban farming bisa dukung perekonomian di Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
urban farming
Ilustrasi urban farming (Rumah Zakat/flickr)

Urban farming bukan hanya sebatas menanam sayur dan buah. Iya, secara garis besar kebanyak orang menganggap urban farming adalah kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh sumber pangan dari kebun sendiri. Padahal lebih dari itu.

Nyatanya, konsep urban farming sendiri memiliki pemahaman ‘pertanian’ di perkotaan. Sementara itu berbagai jenis komoditas yang masuk dalam lingkup pertanian juga beragam. Bukan hanya sayur, rempah, atau buah, tapi jenisnya juga meluas, misal ke tanaman hias.

Karena itu, pada beberapa kondisi dan apabila diseriusi, praktik ini sebenarnya bisa berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat. Sepanjang praktiknya dilakukan untuk budidaya komoditas tertentu.

Bagaimana urban farming bisa mempengaruhi perekonomian?

1. Siklus penjualan komoditas dari hulu yang meningkat

Bibit tanaman budidaya (windi_ckt/flickr)

Prihasto Setyanto, selaku Direktur Jenderal Hortikultura mengungkap, bahwa urban farming berpengaruh terhadap penjualan benih hortikultura. Disebutkan bahwa penjualan benih holtikuluta meningkat hingga lima kali lipat, saat kegiatan tersebut semakin meroket dan populer di kala pandemi.

“Pandemi dan WFH membuat orang memiliki aktivitas baru di rumah, seperti urban farming dengan menanam hidroponik di rumah. Ini adalah fenomena luar biasa. Kami memantau penjualan benih sejak tren ini berlangsung dan ternyata benih horti meningkat hingga lima kali lipat,” ujarnya, pada acara focus group discussion (FGD) bertajuk Kisah Sukses Urban Farming bersama Tabloid Sinar Tani, pada Rabu (10/2/2021).

  Selain sayur, ini 5 jenis buah yang cocok untuk praktik urban farming

Lebih detail, selain tanaman sayuran, tanaman hias juga berperan sangat signifikan pada tren urban farming. Peminatnya bahkan meningkat sampai memunculkan petani-petani tanaman hias dari generasi milenial yang terbilang sukses.

2. Peningkatan ekspor tanaman hias

Bucephalandra, ekpsor tanaman hias yang meningkat (via bucephalandra.co.id)

Tidak hanya diminati atau berputar dalam negeri, siklus hasil urban farming tanaman hias nyatanya juga sampai ke mancangera. Hal tersebut terbukti dengan naiknya angka ekspor tanaman hias hingga tiga kali lipat.

Pada 2019, ekspor tanaman hias berada di angka 105 juta pieces, sementara pada November 2020 meningkat menjadi 333 juta pieces. 

Pembaca mungkin masih ingat, jika bukti lain dari keberhasilan urban farming jenis tanaman hias juga terjadi di Kalimantan. Di mana taman akuaskap Bucephalandra bahkan memunculkan banyak permintaan izin ekspor.

Lain itu, budidaya tanaman bernama lain buce Kalimantan itu juga mulai dikirim dan banyak dilakukan di luar daerah, tepatnya pada kota besar lain. Salah satunya Bogor.

3. Program meningkatkan urban farming

urban farming
Hidroponik (Octavia Putri/Flickr)

Melihat potensi yang ada, Kementerian Pertanian ingin menjaga pencapaian dan momentum tersebut dan pengembangan yang terpelihara. Sebelumnya, Ditjen Hortikultura telah meluncurkan kegiatan urban farming dengan menyebarkan penanaman cabai di wilayah DKI Jakarta.

  72 persen tanah pertanian Indonesia sedang sakit, bagaimana solusinya?

Total luas lahan yang digarap mencapai 4,7 hektare, yang dimanfaatkan oleh 71 kelompok tani. Namun di samping itu, Kementerian Pertanian juga menjalankan program Kampung Hortikultura.

Mengapa namanya kampung? Padahal urban farming sendiri selama ini identik dengan perkotaan?Jawabannya adalah karena program pertanian ini tidak hanya menyasar lahan di perkotaan, tetapi juga petani dengan lahan sempit meskipun di desa.

Nantinya, komoditas yang dikembangkan akan disesuaikan dengan agroekosistemnya. Harapannya, dengan program ini kesejahteraan para petani dapat tercapai dengan hasil produktivitas yang tinggi. Lain itu, lebih baik lagi jika pengembangannya juga dapat sekaligus menjadi area agro-eduwisata.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya