Di 5 negara ini petani jadi profesi bergengsi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
petani bergengsi
Ilustrasi petani (Sorapong Chaipanya/pexels)

Harus diakui kalau selama ini petani di Indonesia jadi profesi yang kerap dipandang sebelah mata. Pandangan akan prospek yang kurang menjanjikan di saat bersamaan juga jadi salah satu alasan angka petani di Indonesia menurun.

Berdasarkan catatan BPS yang dimuat dalam Alinea, penurunan jumlah petani di Indonesia mulai menurut dari tahun 2017-2020. Permasalahan lanjutan yang dapat membuat profesi petani semakin terancam adalah tantangan dari segi regenarsi petani dari kalangan usia muda.

Terlepas dari kondisi profesi pertanian di Indonesia, nyatanya di luar sana ada negara yang menjadi petani sebagai profesi bergengsi. Bukan tanpa alasan, pemahaman tersebut dapat terwujud karena sektor pertanian di negara yang bersangkutan sendiri jauh lebih canggih dari segi teknologi.

Lantas di negara mana saja yang para petaninya dipandang sebagai sosok dengan profesi bergengsi? Berikut 5 di antaranya:

1. Petani bergengsi di Jepang

Pertanian Jepang (Patrick BOUCHENARD/flickr)

Jepang jadi contoh negara pertama yang selama ini menganggap petani sebagai profesi bergengsi. Baik pemerintahan atau masyarakatnya sangat menghargai dan menjunjung tinggi keberadaan para petani. Adapun salah satu desa yang dikenal sebagai pusat profesi petani dan produksi pertanian adalah Desa Kawakami.

Salah satu hal yang membuat petani di Jepang dihormati adalah karena pemerintahan Negeri Sakura tersebut ingin kembali meningkatkan swasembada pangan mereka. Diketahui jika pada tahun 1961, tingkat swasembada pangan Jepang berada di angka 78 persen. Namun kondisi tersebut menurutn drastis menjadi 39 persen di tahun 2006.

  Memahami manfaat budidaya kakao secara organik

Jepang mengedepankan kesejahteraan petaninya dengan teknologi yang memadai, karena ingin kembali meningkatkan swasembada pangan menjadi 50 persen. Disebutkan bahwa penghasilan para petani di Jepang bisa mengalahkan gaji karyawan kantoran. Di mana penghasilannya bisa mencapai 25 juta Yen atau setara dengan Rp2 miliar!

2. Australia

Pertanian Australia (tim phillips/flickr)

Baru-baru ini ada penemuan tak terduga dari sektor pertanian di Australia. Mengutip Tempo, disebutkan bahwa pelaku industri pertanian ternyata lebih berpendidikan, lebih majemuk, dan lebih muda dari yang diperkirakan sebelumnya.

Diperkirakan kalau 3 persen dari mereka yang berkecimpung dalam industri pertanian di Australia berpendidikan setingkat universitas atau lebih tinggi.

Di sisi lain, rupanya sering dijumpai juga kalangan muda yang memilih jadi petani di negeri Kanguru tersebut. Lain itu selain didukung teknologi yang sangat tinggi, disebutkan bahwa sekitar dua pertiga atau sekitar 485 juta hektar tanah Australia, sengaja dibuka untuk sektor pertanian.

3. China

Petani China (SIDDIG OMER MOHAMED/flickr)

Negara satu ini sebenarnya tak perlu dipertanyakan lagi perilah pertanian. Yang menarik adalah, anak-anak muda di China banyak yang berminat terjun ke bidang pertanian. Bahkan, disebutkan bahwa lulusan pendidikan non-petani banyak yang berbondong-bondong menggeluti profesi ini.

  Timun suri, buah khas bulan puasa yang mengingatkan jati diri sebagai petani

Saking unggulnya, pada tahun 2009 China masuk dalam daftar negara dengan produktivitas paling tinggi pada bidang pertanian. Penghasilan yang didapat para petani di China sedikitnya bisa mencapai Rp9 juta per bulan.

Tak heran, petani di China begitu makmur, ditambah dengan fakta bahwa pemerintah mereka sangat mendukung kesejahteraan para petani.

Salah satu bukti dari majunya sektor pertanian China adalah fakta bahwa praktiknya dilakukan di hampir semua lahan yang ada. Mulai dari sayuran yang ditanam di dekat area jalan-jalan hingga banyak dinding bangunan.

Fakta lainnya, China juga merupakan negara penghasil beras terbesar di dunia. Selain itu, mereka juga mendominasi beberaoa komoditas lain seperti kedelai, kaoliang (sorgum), gandum, millet, dan jagung.

4. Amerika Serikat

petani bergengsi
Pertanian AS (Brent M./flickr)

Amerika Serikta mungkin selama ini memang dikenal sebagai negara industri. Namun, meski dari segi pertanian mungkin SDM atau lahannya lebih sedikit dari negara-negara di kawasan Asia, tapi kemajuan teknologi, kesejahteraan, dan penghasilan yang dimiliki oleh para petaninya membuat mereka hidup dengan menjanjikan.

  Mengenal buah stroberi dan 7 varietas yang umum dijumpai di Indonesia

AS terkenal dengan ilmu pertanian dan menyediakan beberapa teknologi yang maju di dunia. Mereka menggunakan teknologi untuk berinovasi dalam hal pengembangan kultivar. Teknologi yang sama juga digunakan untuk analisis tanaman, mesin yang lebih inovatif, dan peningkatan produktivitas dengan teknologi komputer.

Disebutkan bahwa pertanian di AS berkembang sebesar 5 persen setiap tahun sejak 1990. Selain itu, produksi setiap pekerja pertanian meningkat sebesar 0,84 persen setiap tahun.

Di AS, jagung menjadi komoditas pertanian terbesar dengan produktivitas sebanyak lebih dari 247 juta metrik ton. Baru di posisi ke dua ada kedelai dengan produktivitas mencapai 74,5 juta metrik ton. Lalu di posisi ketiga ada gandum dengan produktivitas sebesar 69,3 juta metrik ton.

5. Belanda

Negara selanjutnya yang juga memandang petani sebagai profesi yang bergengsi adalah Belanda. Terbukti, diketahui jika penghasilan para petani di Belanda paling sedikit bisa mencpaai Rp14 juta per bulannya.

Bukan tanpa alasan, majunya pertanian di Belanda dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah mereka menggunakan sistem modern. Sehingga tak heran, jika para petani begitu mudah dalam bekerja dan bercocok tanam.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya