Ingin memulai urban farming di rumah, coba mulai dengan 4 tanaman ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kemangi (Matej Duzel/Flickr)

Lazimnya, kegiatan berkebun paling banyak dilakukan di wilayah pedesaan, tai buat kamu yang tinggal di kota besar pun juga bisa melakukannya dengan lahan yang sempit, baik dipekarangan rumah atau di rooftop. Nah, kegiatan berkebun ‘minimalis’ itulah yang umum dikenal dengan sebutan urban farming.

Secara definisi umum, urban faming atau tani perkotaan adalah istilah untuk kegiatan bercocok tanam secara mandiri di wilayah perkotaan dengan lahan yang terbatas. Biasanya hasil panen dari kegiatan tersebut diolah untuk dikonsumsi sendiri atau didistribusikan ke tempat lain.

Tanaman yang sering ditanam biasanya adalah jenis sayur-sayuran dan buah-buahan. Nah, jika kamu ingin mencoba memulai kegiatan urban farming, berikut beberapa jenis tanaman yang direkomendasikan untuk untuk memulai.

1. Cabai

Tanaman cabai (HEN-Magonza/Flickr)

Pohon cabai yang memiliki nama ilmiah Capsicum frutescens sangat umum ditanam secara mandiri di halaman rumah. Tanaman ini pun sangat cocok bagi kamu yang ingin memulai kegiatan urban farming, dengan menanamnya melalui biji.

Biji cabai bisa didapat dari buah cabai yang sudah membusuk dan sudah berubah warna menjadi cokelat atau teksturnya mulai lunak.

  Begini cara urban farming bisa dukung perekonomian di Indonesia

Untuk menyiapkan benih cabai, dimulai dengan menjemur cabai yang membusuk di bawah sinar matahari. Setelah kering, pisahkan dan ambil bijinya, lalu cuci biji hingga bersih. Setelah itu, tanaman biji cabai seperti penanaman pada umumnya.

Lalu letakkan di tempat yang teduh, dengan sinar matahari yang cukup. Umumnya buah cabai bisa dipanen setelah berumur 2,5-3 bulan sejak ditanam.

Sejatinya, cabai dapat digolongkan sebagai sayuran atau bumbu masakan yang cukup opuler di kawasan Asia Tenggara. Sebagai bumbu, cabai juga sangat bermanfaat sebagai penguat rasa pada sajian makanan.

2. Kangkung

Kangkung (Damayanti Setiawan/Flickr)

Selanjutnya bagi kamu yang ingin memiliki tanaman sayuran lain, bisa memulainya dengan menanam benih kangkung. Meski umumnya sayuran yang satu ini ditanam pada lahan yang luas, namun pada kenyataannya kangkung bisa juga ditanam di pekarangan sempit, atau melalui konsep hidroponik.

Umumnya, ada dua jenis kangkung yang bisa ditanam dengan konsep urban farming, yakni kangkung yang daunnya tebal dan banyak cabang atau kangkung yang berdaun ramping memanjang. Menanam kangkung dapat dilakukan melalui penyemaian biji, sama seperti cabai. 

  Kiat melakukan budidaya stroberi di halaman rumah

Menanam sayur dengan nama ilmiah Ipomoea aquatica ini nyatanya tak sulit. Cukup tempatkan benih kangkung pada lubang media tanam dengan kedalaman 5 cm. Jika kamu menanamnya di dalam pot, pastikan pot memiliki sistem drainase air yang baik.

Tapi kamu menanamnya di tanah pekarangan rumah, maka buatlah jarak antar lubang, yakni sekira 20 cm agar pertumbuhan kangkung tidak bergerombol. 

3. Daun Bawang

Daun bawang (basswulf/Flickr)

Selanjutnya ada daun bawang yang cukup dapat beradaptasi meski ditanam di lahan sempit. Bahkan kamu bisa menanam tanaman dengan nama ilmiah Allium fistulosum ini di dalam pot dalam membudidayakannya. Satu pot disarankan hanya ditanam dua batang daun bawang saja, baik melalui penyemaian biji atau tunas.

Dalam perawatannya, tanaman ini tidak membutuhkan banyak air, meski jangan juga kekurangan air. Kamu cukup menyiramnya dengan jarak 1-2 hari sekali.

4. Kemangi

Kemangi (Matej Duzel/Flickr)

Memiliki nama ilmiah Ocimum basilicum, tanaman yang satu ini memang cocok untuk iklim tripos seperti di Indonesia. Untuk menanam kemangi melalui konsep urban farming, kamu bisa memulainya dari biji atas tunas batang.

  Di 4 negara ini urban farming jadi hal populer dan bergengsi

Bila memulai menanamnya dari biji, biasanya setelah 3-4 hari akan mulai terlihat kecambahnya. Lalu setelah berselang 4-5 minggu kemudian, kemangi akan memiliki akar yang kuat, sehingga bisa dipindahkan ke lahan penanaman, untuk kemudian siap dipanen pada usia 2 bulan atau 50 hari. 

Di Indonesia, kemangi lebih sering dimanfaatkan sebagai pelengkap berbagai jenis masakan untuk menambah aroma yang menggugah selera, biasanya daun kemangi dimanfaatkan sebagai penguat rasa dalam pepesan makanan.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya