Memahami manfaat budidaya kakao secara organik

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Pohon kakao (Wolfgang Holzhacker/Flickr)

Kakao bukan buah yang asing di Indonesia. Tumbuhan dengan biji yang menjadi asal-muasal berbagai produk olahan cokelat ini merupakan tanaman budidaya yang berkembang baik di tanah air.

Memiliki hasil budidaya tinggi, pada tahun 2020 Indonesia menduduki peringkat tiga sebagai negara penghasil kakao terbesar di dunia. Produksinya diketahui mencapai 659,7 ton.

Sayang dibalik potensi tersebut, pengelolaan hasil panen kakao di Indonesia ternyata belum maksimal. Hal tersebut dilatarbelakangi dengan berbagai faktor. Dua yang paling berpengaruh yakni penggunaan metode pertanian yang telah usang, dan penggunaan bahan kimia dalam bentuk pupuk maupun pestisida.

Penggunaan pestisida sendiri selama ini dikenal memberikan dampak tidak hanya bagi kualitas tanaman, tapi juga kerusakan terhadap lingkungan.

Meski belum dilakukan dalam bentuk gerakan besar dan massal, sejak beberapa tahun ke belakang sudah banyak berbagai pihak yang mendorong gerakan budidaya kakao secara organik.

1. Organik vs nonorganik

Pohon Kakao (ditjenbun.pertanian.go.id)

Budidaya berbagai macam pertanian secara organik, termasuk kakao sejatinya juga memberi dampak kesejahteraan bagi para petani. Dapat dipastikan bahwa dari segi ekonomis, budidaya kakao organik dapat menekan biaya produksi dan menguntungkan.

  Perbedaan hidroponik, akuaponik, dan aeroponik dalam urban farming

Hal tersebut lantaran petani tidak perlu menggunakan pupuk dan pestisida nonorganik. Untuk memiliki pupuk organik, petani cukup membuatnya dengan memanfaatkan kotoran hewan. Sementara untuk membuat pestisida organik, hanya perlu memanfaatkan beberapa jenis tumbuhan yang ada di lingkungan sekitar.

Sementara itu penggunaan pupuk dan pestisida nonorganik cenderung akan merugikan karena kebutuhannya akan terus meningkat seiring berjalannya waktu.  Sebagai gambaran, biasanya dalam satu batang pohon kakao dibutuhkan pupuk sekitar 2-3 kilogram, namun pada tahun berikutnya kebutuhan pupuk akan terus meningkat hingga 3-5 kilogram.

Selain itu, diketahui bahwa pupuk dan pestisida nonorganik akan merusak tanaman kakao. Lantaran penggunaannya dapat memperpendek masa produktifitas dan membuatnya rentan terhadap hama penyakit.

Dengan melakukan budidaya secara organik, produktifitas akan jauh lebih meningkat dan ramah lingkungan. Tanaman kakao diyakini akan lebih tahan terhadap hama penyakit, dan tekstur tanah menjadi lebih subur.

Terbukti, berdasarkan data yang disebut oleh Kementerian Pertanian bahwa budidaya kakao organik tercatat dapat meningkatkan produktifitas per hektare hingga 2 ton.

  Selain sayur, ini 5 jenis buah yang cocok untuk praktik urban farming

2. Kakao organik di Kampung Merasa

Kakado (Anton Muhajir/Flickr)

Selama ini wilayah penghasil Kakao di Indonesia lebih banyak diketahui berasal dari wilayah Sulawesi. Namun tak dimungkiri jika beberapa wilayah lain di tanah air juga memiliki potensi budidaya kakao yang cukup menjanjikan.

Salah satu wilayah yang menerapkan budidaya kakao organik berada di Kampung Merasa, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Cokelat kampung Merasa belakangan menjadi komoditas unggulan dan bersaing dengan hasil budidaya kakao dari wilayah Indonesia lainnya. Komoditas kakao wilayah ini ditanam di sepanjang tepian sungai Kelay, dan dikelilingi oleh kawasan hutan langsung.

Karena hal itu pula, pertanian kakao di kampung Merasa telah menjadi mata pencaharian dengan tujuan berkelanjutan. Yakni agar masyarakat di kampung tersebut lebih fokus untuk membudidayakan kakao tanpa harus bergantung pada hutan, dengan cara mengeksploitasinya.

Petani di kampung Merasa telah berkomitmen untuk menjaga kelestarian hutan di kawasan tersebut demi keberlangsungan habitat orangutan.

3. Nilai tambah

Biji kakao (Australian Embassy Jakarta/Flickr)

Lebih lanjut, diketahui bahwa hasil budidaya kakao di kampung ini berhasil lolos ke 8 besar tingkat Indonesia dalam Cacao Excellent Award di Paris Salon du Chocolat. Akhirnya supaya memiliki nilai tambah, kakao yang dihasilkan oleh para petami di kampung Merasa diolah dengan cara fermentasi.

  Berharganya cokelat yang pernah jadi alat pembayaran oleh Suku Maya

Saat ini, petani kakao yang berada di kawasan tersebut bahkan sudah menjadi pemasok untuk salah satu produsen coklat di Indonesia yakni Pipiltin Cocoa.

Karakteristik rasa khas dan unik dari cokelat kampung Merasa yang saat ini tengah beredar di pasaran adalah madu dan jeruk citrus. Olahan tersebut yang secara langsung dihasilkan dari biji cokelat yang sudah di fermentasi, oleh Petani Asli kampung Merasa.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya