Cekibar, reptil penjaga pohon dengan penampilan yang menarik

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
cekibar (Bramadi Arya/Flickr)

Cecak terbang (Draco volans) yang dikenal juga dengan cekibar atau flying lizard (kadal terbang) merupakan salah satu dari 40 spesies cekibar di dunia. Indonesia ada 21 jenis yang sudah terindentifikasi, tersebar di wilayah Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Sulawesi.

Reptil yang aktif mencari makannya pada siang hari (diurnal), punya fungsi sebagai pengendali ekosistem serangga yang argoreal dan durnal. Semua jenis Draco belum termasuk jenis satwa yang dilindungi. Menurut IUCN, Draco juga tidak termasuk satwa yang terancam.

Lalu bagaimana spesies cekibar ini? Dan apa perannya bagi ekosistem? Berikut uraiannya:

1. Cecak cekibar

Cecak cekibar (Erica bleck/Flickr)

Mengutip Mongabay Indonesia, cecak terbang atau dikenal juga dengan cekibar menggunakan sepasang sayap di belakang kaki di depannya yang unik reptil bertubuh kecil itu terbang di atas pohon menuju ke bebatuan. Cara terbangnya pun terlihat berbeda dengan burung atau kupu-kupu.

Di udara hewan ini hanya mampu terbang beberapa detik saja. Tidak hanya bebatuan yang menjadi muara, ranting-ranting kecil juga menjadi tempat di mana dia akan mendarat dengan cepat. Reptil ini terbang hanya saat angin tenang, namun saat kencang atau hujan turun, dia lebih memilih untuk merayap di atas pohon.

  Kebakaran hutan landa California, ancam habitat pohon terbesar dan tertua di dunia

Hewan ini mempunyai ciri kepala berbingkul-bingkul, bersegi-segi dan berkeriput seperti halnya kakek-kakek. Cekibar yang jantan memiliki kantung dagu berwarna kuning. Sementara, yang betina kantung dagunya berwarna biru cerah, dan sepasang sibir kulit di kiri kanan leher.

Cekibar memiliki rigi mahkota kecil, terletak di sisi belakang kepala. Mempunyai ciri mata yang khas kadal agamid, dengan pelupuk tebal menonjol. Sisi tubuh satwa yang memiliki nama latin Draco volans di bagian atas (dorsal) berwarna cokelat sampai kehitaman atau keabu-abuan, jika merasa terganggu warna kulitnya berubah lebih gelap.

2. Samaran yang baik

Cekibar (Gede Partha Wijaya/Flickr)

Di sepanjang tulang belakang (vertebrata) terdapat pola bercak-bercak hitam yang letaknya teratur, di mulai dari ubun-ubun, belakang kepala, tengkuk, lalu kemudian bisa membesar dan berubah menjadi pola hitam kecokelatan setengah lingkaran. Pola semacam ini merupakan samaran yang baik di pepegan (kulit terluar) pohon atau batu. 

Cekibar memiliki panjang tubuh sekitar 22 cm. Di tubuh bagian bawah (ventral) berwarna abu-abu keputihan, pada sisi medial (garis tengah tubuh) warnanya agak kehijauan dengan titik-titik kecokelatan di arah lateral (sebelah pinggir tubuh).

  Mengenal jenis sapi kurban yang ada di Indonesia

Ketua Yayasan Herpatofauna, Nathan Rusli, menjelaskan selain digunakan untuk meluncur, sayap draco volans ini juga berfungsi sebagai pertahanan diri. Dia bisa melipat sayapnya dan menyerap panas lebih banyak. Karena reptil berdarah dingin sehingga membutuhkan panas dari matahari.

Musuh dari Draco ini yaitu burung, kelabang, dan ular. Cara lain dalam perlindungan diri yakni dengan mengubah warna kulitnya. Sementara sayapnya bisa dilipat, cekibar bisa melayang di udara berkat keberadaan membran bernama patagium pada kedua sisinya.

Aliran udara yang menerpa patagium akan memberi daya angkat kepada cekibar, sehingga satwa tersebut bisa melayang selama mungkin di udara. Cekibar akan menggerakkan ekor panjangnya tatkala ingin mengubah arah terbangnya.

“Kerjanya makan rayap, semut, dan serangga kecil lainnya. Saat merasa terancam dia ini bisa membuka rusuknya seperti parasut. Jika dia bisa membuka lalu loncat dari atas pohon ke pohon lain,” ujarnya.

3. Pengendali populasi

Cekibar (Claudia Safir/Flickr)

Reptil yang dikenal dengan sebutan klarap merupakan predator yang mencari makannya pada siang hari. Keberadaannya juga bermanfaat sebagai pengendali ekosistem serangga yang argoreal dan durnal. Sehingga pohon tersebut tidak cepat tumbang.

  Unik, 5 makhluk ini tidak bisa merasakan sakit

“Selain itu keberadaan cekibar juga bisa dijadikan indikator sebuah sistem yang sehat baik itu di perkotaan ataupun di pedesaan,” papar Falahi Mubarok dalam Cekibar, Si Reptil Unik Penjaga Pohon.

Peneliti LIPI, Amir Hamidy, menjelaskan jika dilihat dari peran ekosistem dari suatu spesies akan selalu dikaitkan dengan perannya pada rantai makanan. Sementara itu secara ekonomi, sekarang banyak penghobi yang memelihara reptil seperti cekibar.

Menurut dia, itu yang kemungkinannya akan dikemas atau dikomersialkan, apalagi cekibar ini mempunyai penampilan yang menarik. Tetapi untuk memelihara reptil jenis ini tidak segampang memelihara reptil yang lain, karena cekibar membutuhkan ruang yang luas untuk meluncur.

“Kalau dipelihara di dalam ruangan ya kasihan, yang namanya pat ini kan fashion industry. Sehingga ke depan kemungkinan ada kecenderungan untuk menjadi tren, misal harga bagus pasti banyak yang mencari,” ujarnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya