Cerita Selat Muria yang pernah pisahkan Jepara dari Pulau Jawa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Gunung Muria (Gunung.id)
Gunung Muria (Gunung.id)

Jepara merupakan salah satu kabupaten yang terdapat di Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di barat dan utara, Kabupaten Pati dan Kabupaten Kudus di timur, serta Kabupaten Demak di selatan.

Jauh sebelum munculnya kerajaan-kerajaan di tanah Jawa, di ujung sebelah utara Pulau Jawa ini sudah terdapat sekelompok penduduk yang diyakini berasal dari daerah Yunnan Selatan. Mereka kala itu melakukan migrasi ke arah selatan.

Jepara kalai itu masih terpisah oleh Selat Juwana. Jepara sendiri berasal dari perkataan Ujung Para, Ujung Mara, dan Jumpara yang lalu menjadi Jepara. Kata Jepara sendiri memiliki arti sebuah tempat pemukiman para pedagang yang berniaga ke berbagai tempat.

Sebagai salah satu kabupaten atau daerah tertua di Jawa, Jepara telah mengalami berbagai lintasan sejarah yang dimulai sejak munculnya pemerintahan pada masa kerajaan. Beberapa kerajaan diketahui telah menguasai Jepara, antara lain Kerajaan Kalingga, Mataram Kuno, Majapahit, Demak, Kalinyamat, hingga Mataram Islam.

Tetapi banyak yang tidak tahu bahwa Jepara pernah terpisah dari Pulau Jawa, bersama daerah sekitar Gunung Muria yang meliputi, Kabupaten Kudus, Jepara, dan Pati. Mau tahu bagaimana Jepara ketika terpisah dari Pulau Jawa? berikut urainnya.

1. Selat Muria yang pisahkan Pulau Jawa

Selat Muria (wikipedia)

Selat Muria adalah wilayah laut yang dahulunya memisahkan antara daratan Jawa dengan Gunung Muria. Karena adanya selat itu, membuat kota-kota pantura yang kini bernama Jepara, Kudus, dan Pati pernah terpisah di luar daratan Pulau Jawa.

  Gelasa, Pulau yang menyimpan jejak misteri peradaban purba Indonesia

Ketika itu masa glasial, Gunung Muria beserta pegunungan kecil Patiayam dahulunya bergabung dengan daratan utama Pulau Jawa. Adanya perluasan pembekuan es di kutub menjadikan air laut surut hingga 10 meter dari kondisi permukaan saat itu.

Hal berbalik terjadi pada masa inter glasial. Ketika itu suhu bumi menghangat sehingga menyebabkan yerjadinya pencarian es, volume air laut pun meningkat. Gunung Muria kemudian terisolir dari Pulau Jawa dan terpisahkan oleh laut dangkal yang tidak terlalu lebar.

Dahulu, pusat kerajaan Demak terletak di tepi pantai Selat Muria yang memisahkan antara Pulau Jawa dengan Pulau Muria. Kapal bisa berlayar dengan baik ketika melewati selat yang cukup lebar. Karena itulah, dalam sejarah, Kerajaan Demik sering disebut dengan kerajaan maritim.

2. Jalur perdagangan di Selat Muria

Masjid Demak (Wikipedia)

Dilansir dari Kemendikbud.go,id, pada masa lalu Selat Muria merupakan jalur perdagangan dan transportasi yang telah ramai dikunjungi. Di sini juga menjadi titik pertemuan antara masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa dengan mereka yang tinggal di pulau lainnya.

Menurut sejarawan H.J De Graff dan T.H.T Pigeud dalam bukunya berjudul Kerajaan Islam pertama di Jawa, kejayaan Demak terjadi karena lokasinya yang dekat dengan lautan. Letak Demak cukup menguntungkan bagi kegiatan perdagangan maupun pertanian.

  Jejak Taman Sriwedari, tempat hiburan rakyat Solo yang tinggal kenangan

“Selat yang memisahkan Jawa Tengah dan Pulau Muria pada masa itu cukup lebar dan dapat dilayari dengan leluasa, sehingga dari Semarang melalui Demak, perahu dagang dapat berlayar sampai Rembang, baru sejak abad ke 17 Selat Muria tak dapat dipakai lagi sepanjang tahun,” tulis De Graff dan Pigeud.

Memasuki abad ke 17, Selat Muria memang semakin dangkal sehingga kapal tidak dapat berlayar mengarunginya. Meski demikian, pada musim hujan perahu-perahu kecil masih bisa mengarungi selat itu dari wilayah Demak hingga Juwana.

Hilangnya Selat Muria diduga menjadi awal kemunduran Kerajaan Demak yang pernah berjaya di laut Nusantara. Setelah pendangkalan yang terjadi di Selat Muria, pelabuhan kerajaan itu kemudian berpindah ke Jepara. Demak lantas terus masuk ke dalam kota hingga memunculkan Mataram Islam.

3. Penemuan bukti dan proses pendangkalan

Mengutip dari Siagabencana, Selat Muria hilang karena terjadinya sedimentasi yang terjadi secara terus meneru. Sedimentasi tersebut terjadi akibat adanya pengangkatan pegunungan Kendeng. Selain itu diperkirakan adanya sedimentasi itu karena perubahan arah aliran Bengawan Solo purba.

  Pasca berakhirnya Kerajaan Pajajaran (Bagian 2)

Meski belum ditemukan bukti yang spesifik bahwa sungai Bengawan Solo mengalir ke arah Selat Muria. Tetapi, jika dilihat dari pola morfologi Pulau Jawa, maka sangat memungkinkan hal tersebut terjadi.

Tetapi bukti adanya Selat Muria pada zaman dahulu adalah dengan ditemukannya sebuah fosil kerang laut, serta banyak batuan karang yang masih berdiri di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Selain itu ada bukti lainnya, yaitu ketika membuat sumur bor dengan kedalaman 20 meter air yang keluar merupakan pasir serta rasa air yang keluar berasa asin seperti air laut. Hal lainnya adalah penemuan benda purbakala di Situs Patiayam Kudus, berupa bukti kehidupan manusia dan hewan darat.

Juga ditemukannya bukti kehidupan hewan laut zaman dahulu, tak hanya hewan darat seperti harimau, badak, babi, gajah, kerbau, banteng dan rusa yang ditemukan. Tetapi beberapa fosil hewan laut seperti moluska, ikan hiu, penyu, dan buaya juga ditemukan di sana.

Sementara itu pada Situs Medang yang terletak di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengan, ditemukan jejak sebuah hunian kuno dan fragmen gerabah, keramik dan perhiasan berbahan emas. Dari adanya temuan-temuan tersebut, diduga Situs Medang dahulunya merupakan hunian kuno yang letaknya berada di sisi selatan Selat Muria.

Foto:

  • Wikipedia

Artikel Terkait

Artikel Lainnya