Cerita laut dan pengaruhnya atas peradaban di Sulawesi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Laut Sulawesi (Ahmad Syukaery/Flickr)

Membicarakan Pulau Sulawesi muncul kesan kuat yang tercetak dalam ingatan, yakni kemaritiman. Kehidupan masyarakat yang lekat dengan perairan sejak berabad-abad lampau telah melahirkan kota berikut bandar niaga.

Di wilayah selatan dan tenggara, situasi itu terwakili oleh jejak Kerajaan Makassar/Gowa, Bone, Luwu, dan Buton. Di bagian barat terwakili oleh Kerajaan Mandar Balanipa. Adapun di utara diwakili oleh Kerajaan Manado (mencakup Minahasa dan sekitarnya).

Lalu bagaimana sejarah Pulau Sulawesi yang dekat dengan laut? Dan bagaimana jejaknya kini? Berikut uraiannya:

1. Sulawesi dan laut

Pulau Bangka, Sulawesi Utara (scubaluna/Flickr)

Membicarakan Pulau Sulawesi muncul kesan kuat yang tercetak dalam ingatan, yakni kemaritiman. Kehidupan masyarakat yang lekat dengan perairan sejak berabad-abad lampau telah melahirkan kota berikut bandar niaga.

Di wilayah selatan dan tenggara, situasi itu terwakili oleh jejak Kerajaan Makassar/Gowa, Bone, Luwu, dan Buton. Di bagian barat terwakili oleh Kerajaan Mandar Balanipa. Adapun di utara diwakili oleh Kerajaan Manado (mencakup Minahasa dan sekitarnya).

Makassar menancapkan kuku kemaritimannya pada masa Kerajaan Gowa-Tallo di awal abad ke 16. Adalah Raja Gowa IX Karaeng Tumapa “risi” Kallona yang memerintah pada 1510-1546 yang pertama kali mengeksploitasi potensi perniagaan laut Makassar.

  Cikalang, burung perompak yang bisa menujukkan indikator alam

Pada abad ke 17, Kerajaan Makassar bahkan telah menelurkan hukum bernama Amanna Gappa. Sistem hukum ini tak hanya menjamin kebebasan berniaga di laut, tetapi juga mengatur sejumlah hak dan kewajiban pemilik kapal dan anak buah kapal.

Di sisi lain, peradaban barat di masa lampau masuk melalui kawasan utara Sulawesi bersamaan dengan ekspansi dagang Spanyol. Sulawesi Utara menjadi persinggahan pedagang Spanyol yang berlayar memburu rempah dari Filipina ke Maluku.

Tidak heran secara sosiokultural karakteristik budaya dan tradisi masyarakat di wilayah utara Sulawesi cenderung lebih dekat dengan Filipina, sebagai bagian dari pengaruh Spanyol dan Portugis.

“Pengaruh budaya Spanyol dan Portugis, seperti dalam tradisi, penggunaan nama keluarga (marga), dan ragam kuliner di wilayah tersebut,” papar Suwardiman dalam Dua Simpul Peradaban Sulawesi yang dimuat Kompas.

2. Dagang dan merantau

Masyarakat Sulawesi (scubaluna/Flickr)

Membaca sejarah lampau peradaban Sulawesi kerap terfokus pada kegemilangan wilayah selatan pulau ini. Pada abad ke 15-16, Makassar menjadi kota perdagangan yang pesat sekaligus menjadi titik pertemuan beragam budaya.

“Berbagai simpul peradaban singgah di kota ini,” paparnya.

Pada abad ke 17, Makassar menjadi salah satu kota paling berpengaruh di Nusantara. Sejarawan Onghokham (1983) menggambarkan Kota Makassar sebagai salah satu kota yang pertumbuhannya paling pesat di dunia ketika itu.

  Tata ruang Situs Gunung Padang yang dikelilingi mitos dan spiritual

Hal ini ditandai dengan jumlah penduduk Makassar yang mencapai lebih dari 150.000 jiwa pada abad ke 17. Bandingkan dengan jumlah penduduk di Paris dan Napoli yang berjumlah sekitar 100.000 pada kisaran waktu yang sama.

Karakter lain yang melekat pada orang Bugis dan Makassar adalah tradisi Sompe (merantau). Tradisi merantau menempatkan mereka dalam catatan sejarah sebagai masyarakat yang tak hanya dikenal sebagai pelayar andal, namun pembuat kapal unggul.

Kapal phinisi hasil karya mereka menjadi penanda ketangguhan tradisi bahari Nusantara. Dengan phinisi, diaspora orang Bugis dan Makassar jauh menjangkau wilayah lain, seperti Kalimantan Timur, Nusa Tenggara, Australia Utara, dan Kepulauan Maluku Tenggara.

Antropolog Universitas Hasanuddin, Tasrifin Tahara menyebut keunggulan lain dari masyarakat Bugis-Makassar adalah daya ekspansif mereka yang tak hanya terbatas pada urusan dagang, tetapi membawa pengaruh politik dan budaya.

“Ketika berekspansi, masyarakat Bugis dan Makassar setia membawa identitas kultural mereka. Di mana pun berada, mereka memiliki relasi untuk mengembangkan hubungan dagang. Karakter ini masih melekat kuat di kalangan saudagar Bugis-Makassar sampai saat ini,” ucapnya.

  Kelelawar, sebagai satwa penyerbuk tanaman dan pengendali hama

3. Dua pintu kegemilangan

Laut Sulawesi (Ahmad Syukaery/Flickr)

Karakter kota perdagangan yang terbuka ini secara tidak langsung berperan dalam membangun karakter masyarakat. Orang Bugis dan Makassar dikenal terbuka dan mampu merespon potensi kultural yang beragam secara kreatif.

Makassar bisa berkembang cepat antara lain berkat Kesultanan Makassar yang secara total mendukung aktivitas perdagangan, antara lain dengan menjamin perlindungan terhadap pedagang mana pun yang singgah di Makassar.

“Selain itu, juga berkat keandalan para pedagang Bugis dan Makassar dalam menguasai produk rempah-rempah dari Maluku,” ucap Suwardiman.

Sejarawan Universitas Hasanuddin, Edward L Poelinggomang menuturkan para pedagang Bugis Makassar menguasai produk asal Maluku karena mereka memiliki hubungan yang baik dengan Maluku.

Karena itu menyaksikan perkembangan Kota Makassar dan Manado yang tumbuh pesat saat ini seolah membangkitkan kembali memori kejayaan masa lalu. Makassar dan Manado saat ini masuk dalam daftar kota yang pertumbuhannya paling pesat di Indonesia.

“Dengan kiprah kedua wilayah itu, Sulawesi kini memegang peran penting sebagai poros pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia,” tegasnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya