Aprilani Soegiarto dan berdirinya Lembaga Oseanografi di Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Aprilani Soegiarto (Dok. Anugerah Nontji via darilaut.id)

Diperingati setiap tanggal 8 Juni, Hari Laut Sedunia memiliki dua tujuan penting. Yakni mengajak setiap orang lebih peduli dan memahami terkait peran utama lautan dalam kehidupan sehari-hari. Dan menginformasikan dampak tindakan manusia di laut, guna memahami pengelolaan laut di dunia yang berkelanjutan.

Bicara mengenai pengelolaan, di bidang kelautan sendiri terdapat profesi khusus yang memegang peran penting dan sangat dibutuhkan, yakni ahli kelautan atau yang dikenal juga dengan istilah oseanografer.

Secara garis besar seorang ahli kelautan bekerja dengan melakukan penelitian tentang kondisi laut di berbagai wilayah. Tak jarang, seorang ahli kelautan juga bertanggung jawab mengelola kawasan konservasi di perairan.

Selain menangani masalah kelautan, seorang oseanografer biasanya melakukan riset, observasi, dan pemantauan potensi kelautan tanpa merusak alam. Di Indonesia sendiri, tenaga ahli kelautan mengalami regenerasi yang cukup panjang sejak awal keberadaannya.

1. Latar belakang terbentuknya oseanografi di Indonesia

Terbentuknya ilmu kelautan atau oseanografi di Indonesia melalui jalan yang panjang. Semuanya bermula saat Indonesia mulai memperjuangkan kemerdekaan dan mengusir semua orang Belanda keluar dari tanah air.

Di sisi lain keputusan tersebut membuat seluruh tenaga ahli Belanda yang bekerja di lembaga-lembaga penelitian Indonesia harus hengkang. Hal tersebut menyebabkan lumpuhnya lembaga-lembaga penelitian utama, karena Belanda tidak menyiapkan SDM pribumi sebagai peneliti.

  Dari Jokowi hingga Dubes Jerman, ini deretan ‘protes’ dari pegiat lingkungan cilik Indonesia

Lembaga-lembaga penelitian yang sangat terdampak adalah yang berada di bawah naungan Kebun Raya Indonesia / Kementerian Pertanian, termasuk antara lain Lembaga Penelitian Laut di Pasar Ikan, Jakarta, yang secara kelembagaan bernaung di bawah Kebun Raya Indonesia.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Prof. Kusnoto Setjodiwirjo selaku Kepala Kebun Raya Indonesia, segera memutuskan untuk mendirikan Akademi Biologi tahun 1955 yang kemudian diresmikan oleh Wakil Presiden RI, Mohammad Hatta.

2. Empat serangkai pertama di jurusan ilmu kelautan

Angkatan pertama oseanografi Indonesia (Dok. LIPI)

Di tahun 1957, akademi tersebut membukan pendaftaran dengan proses seleksi yang ketat. Mereka yang lolos akan mendapat beasiswa ikatan dinas, dalam artian setelah lulus wajib berdinas di lembaga penelitian yang telah diarahkan.

Adapun salah satu jurusan yang dibentuk di bawah naungan Kebun Raya Bogor adalah penelitian laut (oseanografi). Jurusan tersebut dibuka dengan mengandalkan pengasuhan dari oseanografer ternama

Para mahasiswa pilihan angkatan pertama itu diasramakan dan digembleng oleh para pengajar ahli, bukan saja oleh guru besar Indonesia tetapi juga oleh para pakar yang didatangkan dari berbagai negara antara lain dari Jerman, Denmark, Canada, Hongaria, dan Amerika, sedangkan bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa pengantar.

  Mengenal 3 sosok pemuda aktivis lingkungan yang menginspirasi

Jurusan penelitian laut (oseanografi) pun dibuka dibawa asuhan oseanogafer ternama asal Jerman, yakni Prof. Klaus Wyrtki. Saat itu tercatat ada empat orang yang memilih jurusan ini, yakni Aprilani Soegiarto, Kasijan Romimohtarto, Subagjo Soemodihardjo, dan Syarmilah Syarif.

Mereka berempat menjadi generasi pertama oseanografer Indonesia yang berpendidikan akademi. Karena pada saat itu belum ada satupun perguruan tinggi lainnya di Indonesia yang membuka fakultas atau jurusan ilmu kelautan/perikanan.

Lulus dari akademi, keempat orang tersebut kemudian ditugaskan di Lembaga Penelitian Laut, yang sekarang dikenal sebagai Pusat Penelitian Oseanografi LIPI.

3. Jejak jasa Aprilani Soegiarto

Aprilani Soegiarto saat menandatangani kontrak kerja sama PROSEA Foundation dengan Menteri Luar Negeri Belanda, A. P.M. van der Zon, pada 3 Mei 1996 di Den Haag. (PROSEANET via Kompas.com)

Aprilani adalah seorang ilmuwan cerdas dan tekun di bidang oseanografi. Kiprahnya sebagai peneliti oseanografi telah menghasilkan berbagai publikasi ilmiah di bidang kemaritiman. Dedikasi Aprilani dalam pengembangan ilmu pengetahuan telah diakui di tingkat nasional dan internasional.

Pada tahun 1972 Aprilani dipercaya menjadi Direktur Lembaga Oseanografi Nasional (LON), yang merupakan cikal bakal Pusat Penelitian Oseanografi LIPI. Ia mengungkap jika kala itu oseanografi di Indonesia masih sangat terbatas.

  Greg Hambali, bapak aglaonema yang pernah hasilkan tanaman seharga Rp600 juta

“Saat itu oseanografi masih sangat kecil. Kami belum punya Ph.D. Anggaran yang kami terima hanya Rp 50 juta. Mau meneliti apa coba?” ujarnya, mengutip Kompas.com.

Namun ternyata dengan anggaran kecil, Aprilani tetap bisa berkarya. Dalam bidang pembinaan sumber daya manusia berhasil mengorbitkan 16 Ph.D. selama masa kepemimpinan di lembaganya. Lain itu dia juga berhasil menghasilkan karya penelitian yang diakui oleh dunia dan bahkan diaplikasikan secara luas.

Ia beberapa kali mendapat penghargaan internasional seperti ilmu pengetahuan Sarwono Award 2003, WorldFish Achievement Award 2003, Silver Medal dari Wageningen University and Research Center pada April 2003, dan masih banyak lagi.

Terakhir, sosok tersebut diketahui telah wafat pada tahun 2018 di usia 83 tahun. Meski begitu, oleh seluruh peneliti di Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, ia dipandang sebagai sosok yang berjasa besar bagi bidang oseanografi di Indonesia.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya