Modal jadi relawan, Fitra Akbar: ikhlas dan tanggung jawab yang tulus

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Salah satu tugas Fitra Akbar sebagai relawan | Dok. Pribadi

“Hari Sukarelawan tidak hanya sekedar menjadi momen penghargaan untuk para relawan, tapi sekaligus pengingat apakah kita hidup hanya untuk kepentingan pribadi atau sudah bermanfaat untuk orang lain”

Memiliki peran penting dalam membantu terhadap sesama, peringatan akan Hari Sukarelawan Internasional sejatinya telah berlangsung selama lebih dari 30 tahun semenjak ditetapkan oleh PBB pertama kali pada tahun 1985.

Mengandung makna besar, peringatan ini dihadirkan dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran akan kontribusi penting dari layanan sukarelawan, sehingga bisa merangsang lebih banyak orang di semua lapisan masyarakat untuk memberikan layanan di berbagai bidang yang dapat membantu kehidupan orang banyak yang sedang kesulitan di berbagai kondisi.

Berangkat dari hal tersebut, tak heran jika sejatinya Hari Sukarelawan Internasional tidak hanya dipandang sebagai momen untuk memberikan apresiasi kepada para relawan, melainkan juga saat yang tepat untuk merefleksikan diri mengenai peran besar setiap manusia untuk dapat bermanfaat bagi orang lain.

Hal itu yang nyatanya juga diyakini oleh Fitra Akbar, salah satu dari sekian banyak pemuda yang sejak beberapa tahun terakhir aktif mendedikasikan diri dalam berbagai aksi relawan, dan pada akhirnya dipercaya untuk menjadi Duta Kerelawanan dengan harapan dapat menginspirasi lebih banyak orang agar ikut melakukan aksi mulia serupa.

Berbincang bersama kami, Minggu (5/12/2021), Pemuda berusia 25 tahun tersebut membagikan sedikit ceritanya selama ikut berpartisipasi menjadi seorang relawan di berbagai kesempatan dengan harapan dapat membantu orang banyak. Berikut kutipan cerita yang dibagikan Akbar.

Aksi kerelawanan Fitra Akbar dan tim SalamAid | Dok. Pribadi

Bagaimana awal mula bisa ditunjuk menjadi seorang Duta Kerelawanan?

Awalnya saya mengikuti MOKA (Mojang Jajaka) Kota Bogor, kemudian ada satu interview dari Salam Aid yang saat itu sebenarnya memang sedang mencari kandidat untuk mengemban tugas menjadi Duta Kerelawanan

Soal terpilihnya, mungkin karena basic saya yang sebelum itu aktif di NGO daerah Tangerang yaitu Harapan Pemuda Indonesia yang juga concern terhadap isu-isu sosial, kemanusiaan, pendidikan, kebudayaan, dan lain-lain.

Dari situ saya jadi salah satu yang berkesempatan jalan bersama Salam Aid untuk menjadi Duta Kerelawanan.

Berarti sebelumnya sudah aktif di berbagai aksi sosial yang berhubungan?

Iya, sebelumnya waktu masih kuliah saya aktif di cakupan internal sebagai Ketua Himpunan, Ketua BEM, sedangkan kalau untuk eksternalnya saya aktif sebagai Ketua Koordinator Bogor Future Leader for Anti Corruption, yaitu LSM/NGO yang punya concern terhadap isu korupsi.

  Babeh Idin, pencipta hutan kota Pesanggrahan asli Betawi

Sebelumnya saya jadi relawan yang tidak terikat, jadi mengajukan diri secara pribadi ke yayasan-yayasan yang juga membuka kesempatan pada saat waktu tertentu. Tapi kalau aktif secara resmi dalam organisasi yang memang bergerak di bidang kerelawanan baru dalam tiga tahun terakhir ini.

Tiga tahun aktif sebagai relawan, gerakan kerelawanan di Indonesia sudah cukup baik atau belum?

Sebenarnya menurut saya masih kurang masif, karena rasa empatinya masih belum terbangun di masyarakat, tapi memang sudah mulai tumbuh dengan banyaknya organisasi atau LSM yang muncul.

Kebanyakan masyarakat masih ada di tahap simpati atau baru merasa tergerak sebatas di hati saja, ya itu tidak salah juga, tapi kan berbeda dari apa yang dilakukan para relawan yang sudah ada di tahap empati, jadi tidak hanya tergerak di hati saja namun memiliki keinginan untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain pada situasi tertentu, salah satunya lewat aksi nyata turun ke lapangan.

Ya memang perlu kampanye atau sejenisnya untuk semakin menggencarkan keberadaan hal satu ini, kepada kalangan anak muda terutama supaya gerakan relawan tetap ada. Walaupun sebenarnya kalau ada bencana itu kan sudah ada aparatur negara atau lembaga yang menangani, tapi sebenarnya mereka juga membutuhkan masyarakat-masyarakat seperti kita ini.

Ada perbedaan dari sebelum dan setelah dipercaya menjadi Duta Kerelawanan?

Jelas ada, semenjak jadi Duta Kerelawanan dan bergabung dengan Salam Aid jelas semuanya serba cepat, jadi setiap ada bencana apapun ya kita tim termasuk saya langsung terjun ke lapangan tanpa menunggu lama untuk berbagai keperluan seperti evakuasi korban dan sebagainya.

Kalau sebelumnya kan tidak seperti itu pasti dimulai dari pembukaan donasi dulu, lebih ke program-program yang tidak terjun secara langsung atau istilahnya ring satu bencananya. Jadi sangat menantang dan lebih terbuka lagi pemahaman mengenai dunia kerelawanannya.

Tantangan apa yang biasanya dihadapi oleh para relawan secara umum?

Tantangannya kita harus selalu siap karena situasinya itu sangat dinamis dan butuh berbagai pendekatan yang berbeda untuk berbaur dengan masyarakat di wilayah tertentu.

  Luthfi Kurnia, inisiator makanan murah Warung Seribu Cinta

Tapi satu hal yang masih menjadi perhatian menurut saya, sekarang itu masih banyak oknum-oknum yang sebatas datang ke tempat bencana lalu hanya foto-foto untuk keperluan dan kepentingannya.

Dari kebiasaan itu kadang kita yang memang niatnya tulus untuk membantu ini ikut ditarik, jadi seakan-akan kita ini ikut terbawa sebatas hanya untuk pencitraan atau dinilai ada kepentingan. Oknum-oknum ini yang membuat pergerakan yang murni jadi seakan terlaksana hanya untuk pencitraan.

Bagaimana pergerakan kalangan anak muda untuk menjadi relawan?

Konstribusi anak muda itu banyak, contohnya kemarin sewaktu banjir di Malang ada banyak dari kalangan mahasiswa yang ikut dari berbagai kampus terutama di Pulau Jawa, bahkan ada yang mengatas namakan pribadi dari Lombok dia datang buat bantu.

Relawan dengan latar belakang usia lebih tua juga banyak biasanya datang dari kalangan organisasi masyarakat yang sudah lama ada.

Apakah menjadi relawan adalah keputusan yang sudah didedikasikan sepenuhnya, atau ada rencana lain di masa depan?

Sebelumnya sejak 2019 saya bekerja di Harapan Pemuda Indonesia, setelahnya itu sempat bekerja formal juga, tapi memang ternyata jiwa saya di dunia ini, kalaupun nanti saya kerja keinginannya tetap di bidang atau dunia yang sama.

Memang saya akui juga punya cita-cita dan kepentingan pribadi yang realistis, tapi saya usahakan tetap di dunia ini. Masalah rezeki itu Tuhan yang mengatur, saya tidak terlalu mempermasalahkan apa yang saya dapat ya saya terima.

Tapi di samping menjadi relawan saya juga punya usaha-usaha kecil sebagai pemasukan seperti mengajar atau ada jualan juga bersama teman-teman.

Saat ini sedang terjadi bencana di Semeru, apa kebetulan turun langsung bersama Salam Aid ke lapangan?

Di Salam Aid sendiri itu sudah pasti langsung ada gerakan terjun ke lapangan, kemarin juga saya dihubungi untuk ikut ke sana bersama tim tapi waktunya bentrok dengan program dari Pemkot Bogor langsung yaitu Jaringan Pusaka Indonesia yang harus diselesaikan sampai tepat hari ini selesai.

Selanjutnya untuk kontribusi entah bisa jadi saya menyusul tim ke sana atau cukup menjalankan programnya dari sini, jadi membantu tim yang ada di sana dengan support program dan kegiatan dari sini.

  SalamAid turun ke lokasi gempa Sumatra Barat
Berbagi menjadi bagian dari aksi kerelawanan | Dok. Fitra Akbar

Bagaimana pandangan dalam menyikapi Hari Sukarelawan Internasional?

Hari ini jelas sangat penting terutama sebagai pengingat kita sebagai manusia, kita ini hidup hanya untuk kepentingan pribadi atau hidup bisa bermanfaat bagi orang lain. Saya rasa di berbagai Agama apapun kita diajari untuk hidup bukan untuk kepentingan pribadi saja tapi juga agar bisa bermanfaat terhadap sesama.

Di saat bersamaan juga saya salut dan menghargai para relawan di luar sana. Mungkin secara tertulis saya yang dipercaya jadi Duta Kerelawanan dari Kota Bogor, tapi sebenarnya yang menjadi duta sebenarnya justru para relawan itu sendiri yang sudah terjun langsung ke lapangan, membantu sesama.

Duta itu kan pemahamannya untuk menjadi inspirasi bagi orang-orang, meng-influence orang-orang agar ikut menjadi relawan dan aktif pada gerakan di bidang kemanusiaan, orang-orang yang sudah turun sejak dulu sampai sekarang itu yang walaupun tidak mendapat julukan duta tapi sebenarnya sosok menginspirasi yang sebenarnya.

Jadi intinya Hari Sukarelawan ini adalah penghargaan untuk para relawan sekaligus pengingat untuk kita semua.

Prinsip apa yang harus ditanamkan ketika seseorang memutuskan untuk menjadi relawan?

Yang pasti ikhlas dan punya empati yang tinggi, jangan mengharapkan sesuatu yang bersifat material dan harus bertanggung jawab.

Karena seperti yang saya bilang tadi, banyak rekayasa yang terjadi soal turun ke lapangan hanya untuk tujuan kepentingan tertentu seperti datang, foto-foto, lalu pulang. Jangan sampai lah ada hal seperti itu tapi harus ikhlas dan punya rasa tanggung jawab yang tulus.

Ada pesan untuk mereka yang ingin menjadi seorang relawan tapi masih ragu?

Menjadi relawan itu bukan suatu hal yang harus diikuti rasa takut terbebani, baik itu atas nama pribadi atau ingin masuk organisasi pasti selalu diterima dengan baik dan dibantu semampu kita untuk bergabung.

Yang penting jangan memaksakan diri, kalau misal hanya bisa sebatas membuka donasi dan belum mampu datang langsung ke lapangan ya tidak masalah, lakukan apapun yang kita bisa untuk meringankan beban mereka yang kesusahan karena itu sejatinya sudah merupakan salah satu bentuk menjadi seorang relawan.

Foto:

  • Dokumentasi Fitra Akbar
  • SalamAid

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya