Semangat petani milenial penyandang autisme yang tercermin dari sosok Maisa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kebun hidroponik Maisa Petani (Arie Basuki/Liputan6.com)

Menjadi petani adalah suatu pekerjaan yang mulia, dan sejatinya tidak ada alasan untuk menolak menjadi seorang petani, karena dalam praktiknya kini profesi tersebut juga dapat dilakukan dengan cara dan prinsip yang lebih modern sesuai dengan perkembangan zaman.

Beruntung, sebenarnya hingga saat ini cukup banyak kalangan anak muda yang menggeluti dan menggaungkan bukti nyata menjadi sosok petani milenial. Seakan belum cukup, bahkan bagi beberapa kalangan ada yang dengan semangat menjalani peran tersebut meski berada di tengah kondisi spesial yang berbeda seperti orang pada umumnya.

Potret tersebut tergambar dalam sosok Valmaiza Jazila Tjokro, atau yang lebih akrab disapa dengan sebutan Maisa. Namanya belakangan banyak disorot, karena sukses menginspirasi berbagai kalangan setelah diketahui berperan sebagai petani milenial sukses, yang ternyata berasal dari kalangan disabilitas atau lebih tepatnya mengalami kondisi autisme.

Seperti apa potret gerakan petani milenial dari kalangan penyandang autisme yang dijalani Maisa?

1. Petani hidroponik sukses di Jakarta Selatan

Maisa petani (instagram @maisapetani)

Sudah menginjak usia 26 tahun, diketahui jika Maisa mulai menekuni kegiatan hidroponik sejak tiga tahun lalu, tepatnya saat ia berusia 23 tahun. Sang ibu yakni Irta C. Tjokro mengungkap, jika waktu itu dirinya ingin membuat Maisa bisa memiliki kegiatan produktif dan membentuk kemandirian agar ia bisa hidup dengan baik tanpa menyulitkan orang lain di waktu yang akan datang kelak.

  Kenapa selada jadi tanaman yang banyak dipilih dalam hidroponik?

Awalnya Maisa memang diarahkan untuk melakukan kegiatan pertanian urban, yakni hidroponik, akuaponik, dan mengelola berbagai praktik terapan organik. Namun terlepas dari dorongan tersebut, Maisa juga memiliki semangat yang besar untuk membuktikan jika kondisi yang ia miliki bukanlah halangan untuk berkarya, dan melakukan kegiatan produktif seperti kebanyakan orang normal pada umumnya.

Pada akhirnya dengan bantuan sang Ibu, Maisa memiliki dan mengelola kebun hidroponiknya sendiri yang berlokasi di wilayah Ciganjur, Jakarta Selatan, di atas lahan seluas 3.500 meter persegi. Saat ini, semua hasil sumber pangan yang dikelola Maisa telah dipasarkan lewat usaha pangannya sendiri dengan nama Kebun Maisa Petani.

Fakta mengejutkan lainnya, tidak banyak yang menyangka jika Maisa ternyata adalah sosok kakak dari salah satu penyanyi bertalenta tanah air, yakni Sheryl Sheinafia. Maisa sendiri adalah anak ke empat dari lima bersaudara, termasuk di antaranya Sheryl yang merupakan anak paling terakhir.

2. Peroleh penghasilan Rp10 juta per bulan

Maisa petani (instagram @krips21)

Bicara mengenai hasil urban farming yang dikelola, jenisnya pun cukup beragam. Untuk akuaponik bermodalkan beberapa kolam, Kebun Maisa Petani mengembangbiakkan ikan nila, bawal, gurame, patin, dan lele.

  Herry Rasio, ‘master’ aquascape Indonesia yang mendunia

Sementara itu untuk pangan sayur mayurnya sendiri terdiri dari peria, jagung merah, jagung pelangi, daun ginseng, sawi pagoda, tomat, kangkung, selada, dan masih banyak lagi.

Menjual hasil panen pangan dari kebun hidroponik yang dikelola, disebutkan jika Kebun Maisa Petani mampu memperoleh penghasilan yang terbilang besar yakni di kisaran Rp10 juta per bulannya.

Bukan hanya sebatas menjadi tempat produktif bagi Maisa sendiri, sejak awal didirikan kebun hidroponik tersebut juga memiliki tujuan untuk menjadi wahana sekaligus tempat edukasi bagi anak-anak berkebutuhan khusus layaknya Maisa, agar memiliki kesempatan berkembang dan semangat produktif yang sama.

3. Peran besar sosok ibu

Maisa dan ibunya (instagram @krips21)

Di balik keberhasilan yang diperoleh Maisa, semuanya itu bisa berjalan berkat peran dan usaha sang ibu.

Dalam video wawancara yang dimuat oleh Republika, diceritaka jika sebenarnya sejak lama bahkan sejak Maisa masih kecil, sang ibu sudah mulai mengajarkan berbagai macam hal yang sekiranya dapat menjadi modal untuk Maisa hidup mandiri saat sudah dewasa kelak.

  Desa Penangkalan dan kisah petani perempuan sebagai pejuang pangan

Sampai saat dirinya mendapat banyak saran untuk memulai bidang hidroponik, sang Ibu mulai belajar baik dengan berkonsultasi kepada ahli hidroponik di Indonesia, bahkan sampai menonton video tutorial di YouTube mengenai cara paling mudah untuk mulai belajar hidroponik.

Menurutnya, cara termudah menjadi sangat penting karena itu yang akan dia lakukan untuk mengajarkan metode yang sama dan dapat dimengerti dengan baik oleh Maisa.

“Karena kalau bukan saya yang mengajarkan kepada dia, siapa lagi yang mau” terangnya.

“Dia sangat menyukai itu, ekspresi dia melakukan itu tanpa paksaan dan tidak ada mengeluhnya. Itu yang membuat saya merasa kalau ini hal yang tepat buat dijalani oleh Maisa” tambahnya lagi.

Terbukti, hingga saat ini nama Maisa banyak dikenal sebagai pengelola dari kebun hidroponik yang memang dia rawat dan jaga dengan sepenuh hati setiap harinya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya